Monday, September 05, 2005

@ 009 : Amerikanisasi (Globalisasi)

Amerikanisasi (globalisasi) memang sangat kuat sekali pengaruhnya terhadap perubahan atau kehidupan di negeri ini. Hal ini dapat kita lihat mulai dari politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Contoh yang paling gampang dapat kita lihat pada budaya remaja jaman sekarang, dengan kostum udelnya ;p.

Perubahan pasti datang, kenapa ? karena dalam perubahan ada sejumlah harapan. Manusia yang tidak berubah akan ditinggalkan oleh jamannya.

Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi perubahan itu ? Dalam perubahan ada faktor yang cukup kuat yang mempengaruhi perubahan itu. Diantaranya adalah informasi. Informasi harus kita imbangi dengan kebijaksanaan sebab tanpa itu kita akan mudah terbawa ke dalam arus provokasi yang menjurus ke arah kekerasan (radikalisme).

Sweeping warga amerika, bakar perusahaan amerika, "bersihkan" antek amerika dsb. Kalau sudah begini siapa yang akan dirugikan, tentu kita sendiri bukan (dalam arti negara) ?

Menyinggung kebijaksanaan tentu tak lepas dari moral, moral mengandung kadar iman dan taqwa di dalamnya. Agar tidak tergilas oleh mesin perubahan, kita harus meningkatkan kadar iman dan taqwa kita disamping ilmu pengetahuan tentu saja. Sebab iman dan taqwa kita lah yang akan membentengi diri dari belenggu negatif perubahan itu sendiri.

--= sudah sejuah manakah kadar iman dan taqwa kita ? =--

(c) dps

Sunday, August 21, 2005

@ 008 : Rezeki (2)

Bersyukur mungkin itu salah satu kuncinya, kita itu kan biasa memikirkan hal-hal yang tidak ada pada kita. Kita tidak pernah memikirkan hal-hal kecil yang kita miliki. Akibatnya kita akan merasa kurang, kurang dan kurang terus. Dikasih uang 500 ribu kurang, 1 juta kurang, 10 juta kurang demikian seterusnya. Akibatnya apa? kita tidak pernah puas dan menjadi kufur bahkan tak jarang timbul rasa iri dengki terhadap rezeki orang lain (naudzubillahi min dzalik).

Kita sering beranggapan, apabila kita mendapatkan sesuatu yang tidak enak maka kita sebut "nasib". Apabila mendapatkan sesuatu yang enak kita sebut keberuntungan.

Lulus sekolah semua mendapatkan kesempatan yang sama ikut tes. Ada yang diterima di perusahaan kita bilang beruntung, ada yang tidak diterima kita bilang nasib. "kita sering menganggap itu baik bagi kita padahal belum tentu sebaliknya juga demikian, Allah lah yang Maha Tahu segala sesuatu". Dari kejadian itu pernahkah kita memikirkan hikmahnya.

Banyak orang bisa lulus ujian dari kehimpitan daripada kelapangan. Diberi harta yang sedikit, banyak sedekah, banyak temen, rajin beribadah. Diberi harta yang banyak malah semakin pelit semakin sombong. Mungkin klise tapi itulah yang banyak terjadi dihadapan kita. Mereka yang kekurangan justru punya rasa solidaritas yang tinggi daripada mereka yang berlebih.

Hidup ini penuh dengan pilihan, bahkan beli sepatu pun kita harus memilih, beli baju juga memilih, pekerjaan kita bisa memilih, calon istri milih nggak ya? (hehehe). Keimanan dan kecerdasan kita yang mendasari pilihan kita. Maka ada pepatah kuno yang cukup bagus. "Tuntutlah ilmu sampai ke Malang" ...;p.

Allah menciptakan dunia ini lengkap dengan sunatullah (hukum) dan inayatullah (lali artinya tapi kalau tidak salah artinya pertolongan ;p) Nya. Contohnya : orang kalau dibacok wetenge (perutnya) itu mati bahasa suroboyonya modar ;p (sunatullah). Tapi ada beberapa orang kalau dibacok wetenge tidak modar (inayatullah).

Sunatullah itu kita jadikan pedoman. Kalau kita mau pandai ya rajinlah belajar, kalau mau kaya ya giatlah menabung, kalau mau istri yang soleh ya jangan nyari di plesiran ato cafe jadilah orang yang soleh. Sederhana, klise ato idealis mungkin tapi memang logikanya seperti itu. Termasuk jodoh dan nasib...

--= zikir, fikir, ikhtiar =--


(dps)

@ 007 : Rezeki (1)

Rezeki sudah ditentukan oleh Allah. Dia Yang Maha Tahu Segalanya. Jadi rezeki saya dan rezeki anda tidak sama, rezeki saya dan rezeki anda tidak mungkin tertukar karena Allah telah menciptakan makhluk lengkap dengan rezekinya. Coba bayangkan seandainya rezeki itu harus berebut. Tapi meskipun demikian kita tidak boleh pasif, harus berusaha (ikhtiar) dan berdoa (tawakkal) sebaik mungkin, masalah hasil kita serahkan kepada-Nya.

Yang sering kita risaukan itu kan hal-hal seperti itu, merasa seolah-olah sudah berusaha dengan keras tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Bahkan ada yang tidak berusaha mendapat hasil yang luar biasa. Tenaga, pikiran, jiwa dan raga kita kerahkan untuk urusan dunia, repotnya hati juga kita sibukkan untuk urusan tersebut. Akibatnya apa? muncul paradigma seperti tadi, merasa sudah berusaha tapi kok tidak mendapatkan hasil. Semakin kita risau maka kita akan diperbudak oleh pikiran-pikiran seperti itu. Waktu kita akan habis untuk memikirkan hal-hal yang merisaukan tersebut.

Ada sedikit wejangan yang bagus. "Barangsiapa sibuk untuk urusan dunia maka dia akan diperbudak oleh dunia tersebut, barangsiapa sibuk memikirkan-Nya maka dunia akan melayaninya". Wejangan tersebut berarti bahwa kita jangan memikirkan dunia saja sehingga lupa kepada Allah, Tuhan yang membuat kehidupan.

Kita tidak disuruh mencari uang tapi kita disuruh menjemput rezeki...;p*)Aa Gym.

Maka bersukurlah kita yang masih bisa berfikir dan mengetahui mana yang jelek mana yang baik, mana yang bersih dan mana yang kotor. Tidak semua orang mendapat hidayah di dunia ini. Hanya Allah yang Maha Menentukan siapa yang diberi hidayah. Maka kalau kita merasa mengerti kasih tahu kepada yang tidak mengerti, kalau kita merasa kaya bantu kepada yang tidak punya. Kalau kita merasa waras ya jangan bertindak seperti orang gila...;p.

--= zikir, fikir, ikhtiar =--


(c) dps

Thursday, August 18, 2005

@ 006 : Terjajah di Hari Merdeka

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, selalu di puja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.

Dirgahayu ke-60 NKRI, semoga menjadi negara yang "gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo".

Agustus adalah bulan yang menyenangkan selain bulan Ramadhan buatku. Semua ini tak lepas dari perjalanan rohani yang aku alami tentunya.

catatan Agustus 2004, untung masih tersimpan di PC ;p...
Dulu, waktu kecil di Wlingi sebuah desa kecil di kaki gunung Kelud mBlitar, aku termasuk salah satu orang yang paling senang jika bulan sudah Agustus. Kenapa? karena banyak hiburan yang bisa aku liat dengan gratis waktu itu, mulai dari lomba-lomba, karnaval, baris-berbaris dari ibu-ibu sampai pelajar, gugur gunung gotong royong ngecat pager dsb. Maklum org nDeso selalu haus hiburan ;p.

Aura dan suasana seperti itu lama sudah tak aku rasakan sejak aku pindah ke Djakarta. Entah, budaya seperti itu masih ada apa nggak kini? Mungkin ada walaupun tak semeriah dulu ato aku saja yang mungkin sudah kehilangan rasa itu.

17 Agustus 2004 di Kebon Sirih Djakarta, kebetulan aku lagi sendiri di kamar kos. Teman sekamarku (mas Erfan) lagi kerja waktu itu. HHmmmm, Djakarta kadang memang tak memanusiakan manusianya, hari libur begini kok ya masih kerja, apa yang dicari? kadang aku juga tak mengerti...

Dari pagi sampai siang agak sore, aku pelototin TV berharap ada acara yang menayangkan riuh meriah geliat Agustus-an di pelosok tanah air. Jujur saja memang aku lagi rindu banget dengan suasana masa kecilku, dulu.

Kebetulan ada stasiun TV yang menyiarkan perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan, bung Karno, bung Hatta dan Sutan Sjahrir, pikiran ini langsung melayang ke sejarah, seolah-olah aku lagi duduk di bangku kelas. Terlalu berlebih rasanya tapi memang itu kenyataanya.

Orang berjiwa besar (pahlawan), menguras tenaga dan pikiran mengorbankan semuanya hanya untuk satu kata yaitu "MERDEKA". Aku bangga dengan mereka, dengan bangsaku dan nenek moyangku ternyata dulu memang hidup layak (enak) itu sulit, tayangan itu sama dengan cerita bapak dan eyangku dulu, hhmmm...;(.

Dari situ pikiranku kembali menerawang, di jaman sekarang ini sudah sejauh manakah kita mengisi hidup ini dengan sesuatu yang positif? kenapa masih ada yang teler, masih ada gelandangan, masih ada penindasan, degradasi moral, masing-masing tentu punya jawabannya. Yang jelas, jangan pernah meninggalkan sejarah, semoga jiwa dan semangat mereka (baca pahlawan) terus ada dalam dada...
akhir tulisan...

--= sudahkah kita disebut pahlawan, meskipun untuk diri sendiri =--

(c) dps

Sunday, January 09, 2005

@ 005 : Saat Itu Wisuda

9 Januari 2005 jam 12 siang di JCC gelora Bung Karno kulukis lagi sejarah dalam hidupku. Pada hari itu aku wisuda, hhmmm lulus juga akhirnya setelah tiga tahun berjuang, lelah dan penat serasa kuliah dulu luluh ditelan lautan kegembiraan. Rasa capek, sering bolos, naik bus pulang malem, kehujanan di salemba kini sudah ga aku rasakan lagi. Kadang aku kangen banget merasakan hal-hal seperti itu tapi apa daya hidup memang sebuah perjalanan perubahan. Satu perjalanan selesai perjalanan lain masih menunggu di depan.

Saat itu ortu baru pertama kali ke jakarta setelah 4 tahun 3 bulan aku disini. Seneng banget rasanya liat ortu bisa menyaksikan diri ini diwisuda, setitik sinar kebahagiaan sempat terlihat pada wajah mereka. Dad mam i luv u so much, deeply trully. Semoga aku bisa menyenangkan mereka untuk selamanya, ya selamanya. Ya Allah berikanlah hamba-Mu kesempatan...

Saat itu juga ortu berkenalan ama bapak dan mamanya dek H***. Kecanggungan sempat aku saksikan diantara mereka. Maklum sama-sama baru kenal, gitu loh. Tapi aku tidak mau ikut campur urusan orang tua, aku yakin mereka cukup mengerti dan memahami masing-masing, semoga...

Jam 5 sore meninggalkan JCC dan langsung meluncur ke malibu kelapa gading untuk foto studio bersama. Gerimis mengiringi laju mobil kijang hijau, rasa capek udah begitu terasa dari peserta tapi capek membawa bahagia ternyata sangat membekas di dada.

Kegemaranku akting di depan kamera sudah tidak membuatku canggung untuk bergaya lagi. Perlahan cahaya kamera mulai menyentuh wajah dan mengabadikanku dengan toga kebanggaan ini. Tak sabar rasanya pengen lihat langsung hasilnya, hhhmm dasar nafsu selalu saja mengiringi manusia disegala suasana.

Saat itu, satu hari penuh aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, rasanya...

Congratulations

--= Semoga keindahan ini abadi =--

(c) dps

Friday, October 15, 2004

@ 004 : Hasil dari Sebuah Perjuangan

9 Oktober 2004 jam 5 sore, dengan si legenda (motor kesayanganku) kutelusuri jalan ini menuju DEPOK, sebuah kota di selatan Djakarta. Jarak dari basecamp KSBD26 (tempat aku tinggal) ke Depok cukup jauh, jika ditempuh dengan bus kota bisa sampai 2 jam + macet.

Bagaimanapun caranya hari ini aku harus ada di sana, ya harus ada di sana untuk satu tujuan yaitu minta tanda tangan dari bapak dosen pembimbing Tugas Akhir. Sudah sering rasanya aku meremehkan dan menunda suatu pekerjaan. Bahkan disaat-saat genting pun kadang kebiasaan itu masih saja menghinggapi, kebiasaan kurang baik yang terpupuk dari kecil memang tidak mudah untuk dihilangkan, huuhhh????.

11 Oktober 2004 jam 3 sore, aku ke Tangerang. Ini adalah kali pertama aku masuk kota itu dengan motor. Perasaan bingung sempat menghinggapi, nekad adalah modalku saat itu selain nomer telepon kampus. Tanpa alamat dan tak tahu jalan kuberanikan diri meluncur kesana, toh aku bisa nanya, lihat rambu-rambu lalu lintas dan telepon pikirku. Tujuan masih sama dengan hari kemarin, mengejar dosen penguji untuk meminta tanda tangan.

Jalan panjang telah aku tempuh, sore itu kulihat sisi lain kota Djakarta. Pabrik-pabrik di kanan kiri jalan dan bentangan sawah membuat jiwaku terhanyut dalam lamun. Tekadku ke Tangerang sudah bulat, saat seperti ini hidup kurasakan begitu indah. Tekanan dan himpitan yang selama ini membutakanku terhempas begitu saja.

Memasuki kota Tangerang kembali rasa bingung menggelayuti, segera kucari wartel untuk menanyakan alamat kampus. Pulsa telepon genggamku tak mencukupi. Obrolanku dengan pelayanan pelanggan kampus berlangsung sedikit alot, hal ini disebabkan ketidakpahamanku dengan jalanan di kota ini. Setelah kurasakan cukup segera kulanjutkan perjalanan, menuju kampus tujuanku dari awal.

Cukup lama kutelusuri jalanan di Tangerang, akhirnya kutemukan juga kampus itu. Segera kucari dosen yang aku maksud, sedikit menuggu karena saat itu pak dosen lagi mengajar. Tanda tangan akhirnya kudapat, tak bisa lagi kutahan api kegembiraan yang berkobar spontan.

Kini semua telah selesai kujalani, rasa capek yang tumbuh dari perjuangan berkembang menjadi kegembiraan. Satu hal yang dari dulu aku pegang adalah lewati setiap proses dengan baik, sebaik mungkin kita bisa. Setiap proses yang baik akan berbuah manis meskipun itu pahit.

--= aku lulus =--

(c) dps

Monday, September 20, 2004

@ 003 : Sudah Lama

sudah lama aku tidak menulis
entah itu tentang cinta, politik dan sosial
pisau bisa berkarat dan tumpul bila tidak terasah
demikian juga dengan otak

rasanya sekarang aku sudah kehilangan emosional intelligence
yang begitu kental dulu aku bawa dari kampung
jakarta membuat aku berpacu
berpacu dengan rutinitas yang mematikan kreatifitas

huruf terangkai menjadi kata
kata menjadi kalimat terus paragraf dan akhirnya membentuk cerita
bila kita bisa memilih dan menyusun huruf tersebut
tentu akan menjadi sesuatu yang enak untuk dibaca

begitu juga dengan hidup
hidup tersusun dari masalah dan solusi yang disebut kejadian
hidup bukan kumpulan kejadian2 kebetulan yang terangkai begitu saja
bacalah, resapi dan ambil hikmahnya itu maknanya

hidup perlu uang
apalagi di kota sekecil jakarta ini
semuanya serba uang, uang dan uang
disadari atau tidak uang telah menciptakan jarak diantara kita

ada yang mencari uang dan akhirnya jadi budaknya
ada yang tidak mencari tapi uang jadi budaknya
ada yang uangnya sedikit tapi hatinya tenang
ada yang uangnya banyak tapi hatinya resah demikian sebaliknya dan seterusnya

jakarta...
kau benamkan mereka yang memujamu
kau angkat mereka yang gigih terhadap nurani kecilnya
jakarta di 17 desember 2003

--= abis ketemu Aa Gym di Hotel Santika =--

(c) dps

Monday, September 06, 2004

@ 002 : Hidup dalam Dosa

Kenapa rasa itu hilang ??? Dulu aku rasakan hidup ini sangat bersahabat, pelan dan tenang seperti gemiricik hujan pagi yang membasahi genting di rumahku Wlingi sebuah desa kecil di kaki gunung kelud mBlitar. Kehidupan yang sederhana, aktifitas yang tidak istimewa, keramahan senyum tetangga dan tingkah kaku preman kampung terbungkus cerita indah dan masih teringat di kepala.

Kini semuanya hilang, tertelan waktu dan kebodohanku. Makhluk yang kecil ini selalu saja berjalan ke kiri yang terlihat lurus padahal berbatu dan penuh liku. Jalan ke kanan sering aku abaikan, padahal kutahu jalan itu yang membuat ketenangan. Hidup yang selalu dan selalu berbuat dosa, tidak berikhtiar dengan benar, harta ada tapi serasa hampa, seperti orang tua dulu kata ternyata kini benar adanya.

Hmmmm, diri ini tak pernah lepas dari dosa, dosa dan dosa. Setelah itu menyesal tapi tetap saja kembali lagi. Sampai kapan akan seperti ini, selalu dan selalu mengulangi kesalahan yang sama, pantas jika disebut binatang (maaf agak kasar) karena hakekat manusia-Nya tidak seperti itu...

Dosa itu adalah candu, yang mengalir ke nadi menembus jantung, menyerang otak dan mamatikan hati. Syaraf rusak dan rasa terkoyak hingga sensitifitas ini hilang, hidup tapi serasa mati...

Ya, Allah penggenggam jiwa ini. Tancapkanlah nur-Mu ke dalam kalbuku sampai memancar keluar sinar terang-Mu, agar tak kurasa kegelapan seperti ini, Ya Rabbi ampunilah hamba-Mu yang sering lalai ini, tuntun dan masukkan lah ke dalam golongan orang2 yang Kau beri petunjuk, berkah dan hidayah, bukan ke dalam golongan orang2 yang Kau murkai dan Kau sesatkan...Amin

--= Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang =--

(c) dps

Thursday, April 22, 2004

@ 001 : Selamat Datang Pagi

saat kata enggan terucap
saat tak ada kawan berbagi
kepada siapa perasaan harus dilepas
sembunyi, tak selamanya kuat

catatan kadang menjadi gudang
untuk berekspresi dan mengapresiasi
semuanya tak lepas dari keakuanku
sebagai makhluk-Nya yang lemah

--= menulislah =--

(c) dps
Palmerah, Jakarta - 12/4/2004