Friday, May 12, 2006

@ 019 : Majalah Porno

Playboy menjadi masalah yang hangat disamping RUU APP dewasa ini. Kenapa ada golongan yang menolak Playboy, sosiolog Imam Prasodjo mengatakan bahwa Playboy bukan hanya sekedar majalah tapi juga diasosiasikan sebagai simbol "seks".

Menurut Sigmund Freud simbol bukanlah hasil kreasi pikiran melainkan kepingan informasi yang tersimpan dan dimunculkan kembali. Oleh pikiran, kepingan informasi itu diasosiasikan secara bebas dengan berbagai cara sesuai kapasitas pengolahnya. Artinya sebuah simbol secara bebas dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang. Dalam dunia simbol fakta adalah persepsi.

Dalam hal ini penulis percaya bahwa pada akhirnya siapa yang berhak menentukan kebenaran dan kebaikan itu adalah penguasa. Maka berlakulah hukum : pasal satu, penguasa selalu benar dan baik, pasal dua : jika penguasa salah dan jelek kembali ke pasal satu. Secara empiris bukti dari hukum ini sangat banyak, penulis tidak membahasnya pada kesempatan ini.

Berdasar landasan tersebut diatas maka penguasa itu haruslah filsuf dan juga rohaniawan karena disini ada tuntutan bahwa penguasa harus bisa bersikap benar dan baik. Benar untuk ukuran logika sedangkan baik untuk ukuran moral. Penulis akan mengulas sedikit tentang benar dan baik. Contoh : Jika tidak mau terkena penyakit kelamin gunakanlah kondom untuk bersetubuh dengan seorang pelacur. Premis ini benar secara logika tapi tidak baik secara moral. Apalagi jika premis tersebut diucapkan oleh penguasa tentu akan tambah tidak bermoral.

"Silahkan membuat pornografi + aksi, legalkan judi dan zina lewat pelacuran daripada duitnya masuk ke selain pemerintah" dari kacamata saya pendapat itu benar secara logika tapi bagaimana menurut ukuran moral ?

Bukankah kita sama-sama sepakat bahwa kejahatan dan kebaikan memang ada dan terus ada. Dalam perdebatan panjang akhirnya semua akan kembali kepada zat yang Maha Benar dan Maha Baik, tapi menyerahkan segala urusan hidup kepada yang transedental adalah suatu bentuk kemalasan manusia, ujar Marx. Penguasa dituntut untuk menjaga keseimbangan.

Kembali ke masalah Playboy...
Butuhkah kita membaca Playboy ?
Apakah untuk membaca "informasi sex" seperti dalam Playboy kita harus impor ?

(c) dps ~
Palmerah

@ 018 : Seputar Pornografi

Apabila kita menempatkan kasih di atas segala-galanya, yang menjadi persoalan adalah apakah kita dapat mengasihi pemerkosa, perampok dan pembunuh sadis?

Para moralis menganggap bahwa yang namanya kebaikan adalah mengasihi orang lain, merindukan orang lain, mencintai orang lain, menyayangi orang lain, menolong orang lain dan berbagi kata kebajikan dan kasih sayang lainnya (Inu Kencana Syafiie)

Bukankah brutal perasaan kita apabila yang kita rindukan, sayangi, cintai, dan tolong itu adalah seorang pemerkosa dan pembunuh yang memperlakukan dengan sadis korbannya,misal dengan memotong kuping, kemaluan (mutilasi) dan tidak peduli apakah yang diperkosa itu adalah anak, saudara atau orang tuanya. Lebih2 jika hal ini terjadi karena industrialisasi pornografi dan aksi yang menggurita...;(

Dari situ diperlukan marah, benci bahkan perang bila perlu terhadap berbagai pelaku tindakan dekadensi moral. Maka sebagai tindakan antisipatif diperlukan hukum, menurut saya.

Jika melihat dari kacamata ini rasanya kurang pas jika masalah pornografi dan aksi dikaitkan dengan Islamisasi negara, pelarangan kebudayaan tradisional, pembunuhan kreatifitas (seni). Memang RUU APP masih memuat pasal2 yang pro kontra di dalamnya tapi meskipun demikian keberadaannya bukan tidak diperlukan.

Dari dulu, di irian pake koteka tidak jadi masalah, di jawa pake kemben tidak jadi masalah, candi2 ada relief bugil tidak jadi masalah, kitab yang disebutin gus dur "cabul" tidak jadi masalah. Dari sini sebenarnya "Porno" itu sejak dulu tidak jadi masalah.

Akan menjadi masalah jika "porno" itu sudah menjadi komoditas yang dibungkus industrialisasi. Bicara industri maka kita bicara hegemoni, gombalisasi, liberalisasi, kapital, buruh dan moral.

Suatu saat orang pake "BH" ke mal itu adalah wajar (mungkin ini sudah terjadi), trus free sex itu juga wajar. Dari sini kita sudah terhegemoni oleh budaya yang liberal...;(

(c) dps

Thursday, April 06, 2006

@ 017 : Lelah

Dalam hening tinggal aku dan waktu, malam ini tubuhku capek. Suasana yang tidak aku rasakan sekali ini tentu saja. Lelah berjuang dalam membangun hari adalah penyebab.

Aku lebih senang mengartikan hidup ini adalah perjuangan. Hal ini mungkin tak lepas dari masa laluku yang cukup sulit, mendapatkan segala sesuatu harus melalui proses berjuang.

Saat kututup hari dengan banyak hal baik yang aku kerjakan seharian, rasanya lelah itu melebur dalam tidur yang lelap. Tapi, jika kesia-siaan yang sering terjadi, biasanya lelah itu akan bertambah parah. Lelap pun menjadi barang mahal.

Seperti kemarin, kuawali hari dengan mengawas ujian, dilanjutkan dengan mengajar, ditutup dengan ujian praktek komputer. Metode ujian praktek ini kucontek dari pak teguh guru STM. Siswa yang selesai 10 menit nilainya 10, 12 menit 9, 14 menit 8 dan > 20 menit nilainya 0.

Kelas IPA menjadi tes percobaan pertama, Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan sukses yang berarti lancar sesuai harapan. Masih ada dua minggu lagi menyisakan kelas IPS. Label bandel, suka melawan dan tidak patuh yang melekat membutuhkan perhatian ekstra. Harapannya sama, semoga IPS bisa sejajar dengan IPA paling tidak sedikit menempel.

- tulisan ini sengaja belum selesai -

(c) dps

Sunday, April 02, 2006

@ 016 : Bule Indonesia

Dalam pengertian sederhana ekonomi adalah berkorban seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Dengan pengorbanan yang kecil pelaku ekonomi dituntut untuk mencapai hasil yang besar. Akibatnya, banyak materi yang didistorsi sehingga nilai sesuatu itu menjadi absurd.

Pakaian tidak hanya berguna untuk melindungi tubuh tetapi juga sebagai bentuk penggambaran strata sosial. Kalau mau dianggap kaya maka celana harus levis, ngopinya di starbucks, makannya pizza dan musiknya barat.

Anehnya, kita menerima ini semua sebagai kebenaran. Orang yang suka lagu dangdut dianggap pinggiran, udik dan kampungan. Makan di warteg itu orang susah dan miskin.

Sekulerisme sudah berkembang dari tiap sudut, kukunya tajam mengoyak moral menimbulkan kesadaran yang dibangun diatas ketidaksadaran. Materi menjadi tolok ukur kesuksesan. Si miskin berfantasi jadi kaya sedangkan si kaya acuh tak acuh kepada si miskin. Hmmm, dunia memang sudah keblinger.

Tanpa berpikir kritis maka jangan heran jika orang indonesia tapi makannya pizza, kopinya starbucks, celana levis, musiknya barat cuma bahasa saja yang masih indonesia itupun sudah semi2 english ;p.

Jangan heran juga jika ada orang yang mencoba medobrak itu semua malah dianggap aneh dan gila...

--= pertahankan kebudayaan nenek moyang =--

(c) dps

Friday, March 24, 2006

Buruh

Revisi UU 13/2003 Ciptakan Perbudakan

sumber : Pikiran Rakyat - Jumat, 10 Maret 2006

BANDUNG, (PR).-
Upaya pemerintah merevisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak terlepas dari tekanan negara-negara kapitalis, dalam upaya menciptakan tenaga kerja murah dan meningkatkan keuntungan mereka berinvestasi di Indonesia. Upaya itu dikemas seolah menciptakan iklim investasi untuk mendorong pembangunan nasional.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Serikat Pekerja Nasional (SPN), Bambang Wirahyoso kepada "PR", menanggapi aksi demo yang dilakukan kaum buruh di Gedung Sate Rabu (8/3) dan Kamis (9/3). Menurut dia, salah satu pasal yang mencerminkan penilaian itu adalah legalisasi praktik outsourcing yang merupakan suatu bentuk praktik perbudakan modern.

"Pemerintah telah menjadi kuda tunggangan kapitalis, predator internasional dan neoliberalisme," ujarnya kepada "PR", Kamis (9/3) di Bandung.

Hal ini tentu sangat bertentangan dengan filosofi dasar bangsa kita, Pancasila dan UUD 1945. Negara kita bukan kapitalisme atau liberalisme. Tetapi dengan merevisi UU No. 13 Tahun 2003 justru mereduksi hak-hak buruh sehingga bertentangan dengan filosofi dasar sebagaimana dimaksud.

Tidak heran, kata dia, jika kebijakan outsourcing yang tercantum dalam Pasal 64-66 UU Ketenagakerjaan mengganggu ketenangan kerja bagi pekerja, yang sewaktu-waktu dapat terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menganggap mereka sekadar komoditas, dan UU dipandang kurang protektif terhadap pekerja.

"Artinya, UU Ketenagakerjaan tidak sesuai dengan paradigma proteksi kemanusiaan yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, yang memberikan hak bagi warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak," ungkap Bambang.

Hal lain yang merugikan yakni revisi pasal 156, di mana telah terjadi pengurangan nilai perhitungan kompensasi (pesangon). Dalam satu komponen pesangon khusus perhitungan masa kerja terjadi penurunan dari maksimal 9 kali upah menjadi 7 kali upah.

"Ini tentu membuat pekerja yang telah mengabdikan diri kepada perusahaan tidak mendapat penghargaan yang layak," ungkap Bambang. Oleh karena itu, diungkapkan Bambang, SPN beserta sembilan serikat pekerja lain yang tergabung dalam Kongres Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak dengan tegas revisi UU tersebut.

Sementara itu, di Gedung Sate, aksi penolakan terhadap revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 terus disuarakan oleh para pekerja. Kali ini, dilakukan oleh sekira seratus orang pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (F-SBSI) 1992 Kota Bandung di halaman Gedung Sate, Jln. Diponegoro Bandung, Kamis (9/3).

Aksi yang dimulai sekira pukul 9.30 WIB itu diwarnai pendobrakan pintu gerbang Gedung Sate dan pembakaran ban. Hal itu sebagai bentuk kekecewaan mereka karena tidak berhasil bertemu dengan perwakilan dengan komisi terkait di DPRD Provinsi Jabar. Akibatnya, mereka menggedor-gedor pintu gerbang hingga pagar besi itu ambruk.

Untuk menghindari massa SBSI masuk ke Gedung Sate, aparat kepolisian Polwiltabes Bandung membuat barikade cukup ketat. Secara bersamaan pula, petugas pengamanan mendirikan kembali pagar besi yang ambruk itu. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat pengunjuk rasa. Mereka membakar dus dan ban. Namun, tidak berselang lama, petugas pun langsung memadamkan api.

Menurut Koordinator SBSI Jabar, Tatang Rochyana dan Gunawan, koordinator aksi, mereka menolak secara tegas revisi UU No. 13 Tahun 2003 karena hal itu hanya mengakomodasi kepentingan pengusaha dan merugikan kaum pekerja.

Contohnya, kata Tatang, revisi peraturan tersebut menghilangkan hak cuti, pesangon, pengekangan hak mogok kerja akibat adanya sanksi pemutusan hubungan kerja dan ganti rugi. Selain itu, pesangon tidak akan dibayarkan kepada pekerja apabila perusahaan mengalami force majeure serta penghilangan sistem uang pensiun.

Untuk itu, lanjut Tatang, mereka mendesak Pemprov dan DPRD Jabar mendukung penolakan pembatalan revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang merugikan pekerja. Salah satunya, dengan mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah pusat agar membatalkan revisi tersebut. (A-151/A-136)***

Tuesday, March 21, 2006

Glosari Budaya Cewek

Bete: boring top, bad temprament, bosan total, butuh tatih-tayang (butuh kasih sayang). Bete paling sering digunakan untuk menunjuk suasana hati yang sedang tidak menyenangkan, malas melakukan sesuatu, dan bosan. Penyebab bete yang paling populer bagi cewek adalah diputus pacar, ulangan atau ujian tidak sukses, menunggu terlalu lama, batal nge-date (janjian) bareng teman atau pacar, uang saku dipotong, dan dimarahi orang tua. Mengurung diri di kamar, belanja, ngemil (memakan makanan ringan), atau jalan-jalan bareng teman adalah cara buat mengusir bete.

Curhat: ‘curahan hati’, berbicara untuk “berbagi perasaan” dengan teman dekat. Curhat bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, seperti di kamar, di kelas, di mall, di tempat nongkrong, toilet, bahkan curhat untuk anak SMU bisa dilakukan saat upacara bendera. Soal yang dicurhatkan bisa soal pacaran, orangtua, teman, tempat nongkrong yang baru, sampai masalah duit. Ada cewek yang menghabiskan waktu seharian untuk curhat. Curhat bisa menimbulkan perasaan bebas, lega, menambah semangat, tapi sekaligus bisa juga menambah persoalan.

Dandan: aktivitas sehari-hari untuk mempercantik diri. Untuk cewek yang biasa dandan, dandanan yang wajar itu cukup bedak dan lipstik. Tapi ada cewek yang tidak biasa dan tidak bisa dandan sama sekali. Dandan juga termasuk memadukan pakaian, tas dan sepatu/sandal yang akan dipakai. Untuk kebanyakan cewek, me-mix dan me-match-kan pakaian, sepatu, dan tas adalah hal yang sangat penting.

Gaul: tidak ketinggalan zaman, trendi. Ukuran kegaulan adalah pengetahun tentang perkembangan musik dan fesyen, rambut berwarna, berani tampil beda, kendaraan yang dimodifikasi dan diberi beragam asesoris, telepon genggam model paling baru, dan yang terpenting tidak lemot (‘lemah otak’) dan tulalit (“nggak nyambung”) kalau ngobrol.

Gebetan: seseorang yang sedang ditaksir oleh cewek (juga disebut kecengan, dari kata ‘ngeceng’). Gebetan jumlahnya bisa lebih dari satu. Bagi cewek, digebet lebih dari satu cowok merupakan suatu kebanggaan. Aktivitas mencari gebetan mencari gebetan di sebut ngegebet.

Inner Beauty: “cantik batin”. Kecantikan tubuh akan dianggap lebih berarti jika disertai kecantikan batin. Menurut majalah Gadis meskipun cantik layaknya Dian Sastrowardoyo (bintang Ada Apa dengan Cinta?), seorang cewek tetap terlihat biasa kalau tidak didukung oleh “kecantikan dari hati”. Yang disebut “cantik hati adalah cerdas, ramah, murah senyum, punya banyak teman, dan rendah hati. Banyak cewek yakin bahwa kekuatan inner beauty juga dapat membuat cowok “bertekuk lutut”.

Jaim: ‘jaga image’. Suatu cara untuk mengubah diri demi kepentingan tertentu. Jaim bersifat sementara dan dilakukan untuk mengelabui orang lain. Misalnya saja ketika seorang cewek ngegebet seorang cowok, ia pasti men-jaim-kan diri di depan cowok gebetannya karena tidak ingin terlihat agresif, padahal si cewek sebenarnya sangat menyukai si cowok. Si cewek misalnya, tidak ingin menunjukkan bahwa ia tidak suka tertawa keras, tidak suka makan banyak, dan yang paling penting si cewek tidak mau terlalu menunjukkan bahwa ia menyukai si cowok. Di depan si cowok ia harus tampak cool dan jangan sampai menyampaikan rasa sukanya lebih dulu. Tetapi jika sudah menjadi pacar—artinya: tujuannya sudah tercapai—ia tidak lagi jaim. Jaim bahkan harus dihindari, karena dianggap sebagai kemunafikan.

Ngeceng: pamer. Misalnya pamer baju baru, pamer mobil baru bahkan pacar baru pun dipamerkan. Ngeceng lebih sering dilakukan cewek-cewek di mall atau tempat-tempat yang “bertaburan cowok cakep”. Ngeceng biasanya dilakukan rame-rame. Jika beruntung ngeceng dapat berbuah kenalan seorang atau komplotan cowok yang akhirnya bisa dijadikan gebetan bahkan pacar.

Ngedugem: dari kata dugem, ‘dunia gemerlap’. Ngedugem adalah aktivitas bersenang-senang yang biasanya dilakukan malam hari di kafe atau diskotik. Yang dilakukan ketika ngedugem biasanya menyanyi karaoke, jojing (joget-joget di diskotik), atau sekedar minum-minum. Cewek-cewek biasanya berpakaian lebih berani dan tebuka saat ngedugem. Ngedugem biasanya dilakukan pada akhir pekan. Kadang-kadang cewek dilarang ngedugem oleh orang tua atau pacarnya, karena ngedugem identik dengan “cewek nakal”.

Nongkrong: aktivitas berkumpul dengan kelompok sepermainan (geng) atau pacar di suatu tempat yang biasanya sudah ditentukan. Cewek biasanya memilih nongkrong di kafe, mall, tempat les, dsb. Ada juga yang membuat tempat nongkrong sendiri (semacam markas tetap sebuah geng). Nongkrong dianggap lebih gaya dan bergengsi kalau mambawa mobil. Nongkrong tidak terlalu butuh banyak biaya seperti nyalon. Biasanya cewek-cewek lebih memilih nongkrong dengan teman-teman se-geng dibanding dengan cowoknya. Nongkrong biasanya juga diikuti dengan ngerumpi (bergosip).

Nyalon: dari kata ‘salon’, tempat “memperbaiki penampilan”. Yang paling sering dilakukan cewek ketika nyalon adalah creambath (memberi krim vitamin pada rambut biar rambutr jadi sehat), facial (salah satu jalan untuk membuat kulit muka lebih halus, putih dan bebas jerawat), menicure-pedicure (perawatan kaki dan tangan, biasa disingkat ‘meni-pedi’), juga meluruskan dan mewarnai rambut dengan warna-warna menyala (oranye, kuning, merah, hijau, coklat), ada juga luluran, mandi sauna, sampai pijat akupuntur untuk menguruskan badan. Untuk cewek-cewek berduit nyalon adalah rutinitas. Aktivitas nyalon sering dijadikan ajang ngeceng, gaul, dan unjuk diri bagi cewek-cewek.

Prom Night: pesta perpisahan. Acara ini dijadikan ajang untuk menunjukkan diri (kecantikan, kekayaan, pacar baru, dsb.). Bagi yang belum punya cowok, prom night merupakan saat-saat yang mendebarkan untuk dilirik cowok. Majalah-majalah remaja pun sampai menyiapkan edisi prom night yang berisi tips-tips sebelum dan ketika prom night berlangsung. Biasanya ada pemilihan King & Queen of Prom Night. Itulah yang membuat cewek-cewek ingin tampil beda.

Singkatan
HTM: Hubungan tanpa menikah.
HTS: Hubungan tanpa status.
HBL: Haus belaian laki-laki.
HBW: Haus belaian wanita.
PTS: Putus (pacaran).
TTM: Teman tapi mesra
Setia: Selingkuh tiada akhir.
SMS: Sarana menuju selingkuh.
Cokiber: Cowok kita bersama.
Jigun: Jiwa guncang.
DDA: Debar-debar asmara.
MBA: Married by accident.
CPK: Cipokan (ciuman).
FK: French Kiss
ML: Making Love (atau ‘Mama Lemon')

Contoh dalam kalimat: Gue suka ma cowok, dia sahabat gue sendiri, namanya Luki. Gue suka ama dia tapi gue gak tau apakah dia juga suka ama gue. Tapi kayaknya sih dari sikap-sikap dia ke gue dia juga suka ama gue. Kata temen2 gue kita TTM/HTS gitu deh. Iya juga kali ya. Gue sangat menikmati saat-saat kayak gini. Akhir-akhir ini gue sering banget speechless en DDA gitu. Seminggu yang lalu, tim cheerleader gue pentas. Tanpa gue sangka-sangka ternyata dia dateng buat ngasih support gitu ke gue. Gue kan jadi Jigun pas pentas. Kayaknya gue ama dia sama2 HBL n HBW gitu deh. Temen2 cheers gue juga pada suka ama dia, soalnya selain anaknya luncang (lucu), dia juga ramah banget sama semua orang. Saking baeknya dia ama temen2 gue, gue ama anak2 punya kesepakatan buat jadiin dia cokiber. Dan dia keliatannya gak keberatan gitu dengan istilah itu. Sukur deh. Gue bener-bener lagi berbunga-bunga sekarang, karena kemaren pas ulangtaun gue, kita cpk-cpk gitu trus ya u know lah..abis gitu mama lemon deh.. Hehehe..

Newsletter KUNCI No. 12, Juni 2003

Oleh Annisa Muharammi

SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?

The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized... ever increasing growth and accumulation (Ravaioli, 1995: 4)

  1. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya adalah “pahlawan pembangunan”.

  1. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.

  1. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.

  1. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana, yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi ”pemecahan” masalah kemiskinan.

  1. Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut:

(1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral;

(2) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial;

(3) Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;

(4) Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;

(5) Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

6 Oktober 2004


Oleh: Prof. Dr. Mubyarto -- Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.

[1] Makalah untuk lokakarya terbatas (Expert Workshop), Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, 6 Oktober 2004.

Daftar Pustaka

Ravaioli, Carla & Paul Ekins, 1995, Economist and the Environment, Zed Books

--= mari kita berpihak pada rakyat ketjil =--

Friday, March 17, 2006

Di Bawah Gunung Kemakmuran

Pelaut Eropa terperangah melihat pucuk gunung bersalju di khatulistiwa. Saat mulai menjelajah, mereka menemukan emas terhampar di dasar sungai. Inilah awal Papua ditemukan dan menemukan masalah berkepanjangan.

Namun, bagi orang Papua, mereka ada di sana atas kehendak Tuhan. Para pelaut itu menemukan rahasia alam. Gunung bersalju mengingatkan mereka pada areal pertambangan di negerinya. Perut gunung bersalju itu mengandung material bernilai ekonomi tinggi. Itu gunung kemakmuran. Jika dikelola secara tepat niscaya memakmurkan siapa pun yang menguasai.

Penguasa gunung itu orang Papua. Bagi mereka, gunung itu bukan sekadar onggokan material untuk kebutuhan komersial. Mereka membangun nilai-nilai kultural, merumuskan kearifan lokal, dan merajut impian di bawah gunung kemakmuran itu. Ketika mereka memutuskan bergabung dengan NKRI, mereka berharap Pemerintah Indonesia mampu membantu mewujudkan impian mereka.

Apa yang terjadi? Alih-alih membantu mewujudkan impian. Melindungi orang dan alam Papua dari jarahan orang asing pun tidak ditunjukkan pemerintah. Orang Papua nyaris selalu didudukkan sebagai terdakwa atas segala kejadian di tanah mereka sendiri.

Penipuan publik

Tahun 1965-1969, saya hidup di Papua. Masih teringat fisik teman-teman sekolah dasar. Kurus, dekil, berpenyakit kulit, berbaju lusuh, tidak bersepatu. Saya menangis, saat 40 tahun kemudian masih menemukan sosok yang sama. Wajar jika kita bertanya, ke mana 40 tahun sejarah Papua?

Ironisnya, dalam kurun waktu itu kekayaan alam Papua dieksploitasi besar-besaran. Mayoritas hasilnya untuk membangun wilayah di luar Papua. Bandingkan kemajuan Jakarta 10 tahun terakhir dengan nasib Papua 40 tahun terakhir.

Awalnya konsesi pertambangan tembaga 20 tahun mulai tahun 1967. Konsesi itu diperbarui tahun 1991 dan diperpanjang 50 tahun hingga tahun 2041, wilayahnya pun dua kali lipat wilayah awal. Bisa dibayangkan jika alam Papua nan cantik menjadi porak poranda oleh nafsu mengeruk kekayaan alam di sana.

Faktanya, tahun 1973 tiap hari 7.257 ton tailing (limbah industri tambang) dibuang ke Sungai Ajkwa yang menjadi sumber kehidupan suku-suku di sekitar Timika. Tahun 1988 menjadi 31.000 ton tailing dan tahun 2006 melonjak menjadi 223.000 ton tailing per-hari. Kini, jangankan untuk mandi, ikan-ikan di sungai itu mati terkena tailing. Bahkan kebun sagu suku Komoro di wilayah Koperaporka mati.

Mengerikan. Melalui pipa raksasa dari Grasberg-Tembagapura, sekitar enam miliar ton pasir tembaga digerus dan disalurkan sejauh 100 kilometer ke Laut Arafuru, di mana kapal-kapal besar menunggu. Mereka tidak lagi menambang tembaga, tetapi emas. Pakar kimia UGM meneliti kandungan emas di pasir-pasir tembaga yang digerus, dan menghitung enam miliar ton pasir setidaknya menghasilkan enam ribu ton emas.

Mengapa pemerintah tidak pernah jujur menyatakan bahwa PT Freeport Indonesia menambang emas? Ini penipuan publik. Penggunaan nama kota Tembagapura seolah disengaja guna menutupi aktivitas sebenarnya. Wapres Jusuf Kalla menegaskan, yang ditambang adalah emas. Di sidang kabinet terbatas (6/3/2006), Wapres minta kontribusi Freeport ke APBN naik menjadi 300 persen karena kenaikan harga emas di pasar internasional.

Anehnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan, pendapatan kontrak karya Freeport dari pajak dan non-pajak sepanjang 2005 adalah 800 juta dollar AS atau sekitar Rp 7 triliun. Mengapa tak pernah membayangkan berapa yang akan kita dapat jika dikelola sendiri?

Perisai kapitalis

Angka 800 juta dollar AS terlalu kecil buat kita. Lihat compensation (bukan gaji) tiap tahun untuk Chairman of the Board Freeport sebesar 9.509.183 dollar AS; Chief of Administrative Officer 1.756.159 dollar AS; Chief Operating Officer 815.554 dollar AS; dan President Director of Freeport Indonesia 1.641.877 dollar AS. Untuk kompensasi empat pejabat Freeport saja jumlahnya 13.722.773 dollar AS. Bandingkan dengan dana keamanan selama 1996-2004 yang hanya 20 juta dollar AS. Artinya, aparat keamanan kita hanya kecipratan 2,5 juta dollar AS setahun.

Dengan nilai serendah itu, Pemerintah Indonesia dijadikan perisai kapitalis menghadapi rakyatnya sendiri. Kata Menlu RI, berulang kali Pemerintah AS menegaskan, Papua merupakan bagian NKRI. Bagi AS akan lebih repot berurusan dengan Papua sebagai negara mandiri daripada berurusan dengan Indonesia.

Jika Papua berdiri sebagai satu negara, AS berkonflik langsung dengan bangsa Papua. Namun, jika Papua dalam NKRI, Pemerintah Indonesia yang menghadapi segala gejolak akibat pengisapan kaum kapitalis di Papua. Pemerintah AS bisa memainkan dua kartu di sini.

Tengok saja. Saat orang Papua mengais rezeki, menambang tailing di Kali Kabur Wanomen, mereka dihalau secara kasar oleh Satpam PT Freeport dan aparat keamanan Indonesia, mereka ditembak dan jatuh korban. Tidak terbayangkan, yang mereka usir adalah saudara sendiri yang mengais secuil rezeki dari limbah gunung kemakmuran milik kita. Apakah untuk mendapat emas sebesar butir pasir di limbah industri PT Freeport rakyat Indonesia harus kehilangan nyawanya?

Rasa sedih menyergap manakala disadari ada kota modern, Kuala Kencana, dekat Timika, tempat para petinggi PT Freeport bersemayam. Sementara 6-7 kilometer dari kota itu ada rumah yatim piatu Papua yang taraf kehidupannya sama seperti sebelum mereka ”ditemukan”. Dalam radius itu, bisa ditemukan saudara-saudara kita yang masih mengenakan koteka.

Pemerintah seakan bermuka dua terhadap Papua. Kita gerus gunung kemakmuran berdalih kemakmuran negara, tetapi membiarkan saudara-saudara hidup seperti di zaman batu untuk memelihara nilai budaya. Papua adalah kebanggaan NKRI. Wujudkan rasa bangga itu di dada orang Papua. Jangan mereka dipaksa mencari kebanggaannya sendiri.

Riswandha Imawan
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Sunday, March 05, 2006

@ 015 : Bekerja dan Mengabdi

Bekerja dan mengabdi adalah dua hal yang bisa dikatakan beda. Bekerja biasanya motivasinya adalah uang, sedangkan mengabdi adalah bekerja yang motivasinya bukan uang.

Di Jogja banyak orang mau mengabdi kepada keraton dengan gaji 30 ribu satu bulan. Mereka menemukan ketenangan batin tanpa harta yang berlimpah dengan menjadi abdi dalem. Hal ini dapat kita lihat dari konsistensinya mengabdi selama 20 sampai 30 tahun, bahkan lebih.

Menjadi guru bagiku adalah suatu pengabdian, ada kebahagiaan dan kesenangan tersendiri meski materi tak seberapa kudapat. Melihat murid dan menjelaskan sesuatu di depannya, membuat mereka bingung sekaligus mengerti, berusaha membantunya menjadi orang yang sukses jasmani dan rohani menimbulkan rasa bangga dan senang dalam hati ini.

Bertahan dalam gempuran kaum materialistis memang tidak mudah. Industrialisasi telah memaksa orang berprilaku konsumtif. Tak sedikit mereka mengorbankan harga dirinya demi sesuatu yang disebut materi. Padahal nilai sejati manusia itu terletak pada akal yang tercermin dari moral bukan materi.

Di sinilah sebenarnya kita bisa belajar bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup itu tidak selalu terukur dari materi bukan.


--= belajarlah mengabdi =--

(c) dps

Thursday, February 09, 2006

@ 014 : Do'a Malam Pertama Bagi Penganten

Do'a ini dibaca ketika suami akan memasuki kamar istrinya pada malam pertama, bacalah do'a di bawah ini seraya memegang dahi istrinya, niscaya Allah akan menjamin dijauhkan dari kejahatan-kejahatannya.

اللهم انى اسئلك من خيرها وخيرما جبلتها عليه واعوذبك من شرها وشرما جبلتها عليه

Allaahumma innii as-aluka min khairihaa wa khaira maa jabalathaa 'alaihi wa a'uudzubika min syarihaa wa syahri maa jabalathaa 'alaihi

Artinya: Wahai Allah, aku memohon kepada_Mu kebaikannya dan aku berlindung kepada_Mu dari kejahatannya.

--= masihkah kita mau berdoa? =--

(c) dps

Wednesday, January 25, 2006

@ 013 : Hari Pertama Menjadi Guru

Satu minggu yang lalu saya ditawari seorang temen untuk mengajar komputer di salah satu sekolah swasta (SMA) di Djakarta. SMA tersebut terletak di Rawamangun satu komplek dengan SMP dan SMK milik yayasan yang sama.

Tanpa berpikir panjang, saya menyanggupi tawaran itu. Kecintaan saya pada dunia pendidikan wabil khusus ilmu pengetahuan membuat hati penasaran dan ingin terlibat langsung sebagai tenaga pendidik.

Dengan perantara teman, akhirnya saya dipertemukan dengan kepala sekolah. Obrolan santai pun terjadi, mulai dari penentuan jadwal hingga honor. Sedikit terkejut memang karena honor ini lebih kecil dari perkiraan saya. Besarnya kira-kira 100 ribu di bawah uang makan di kantor. Karena motivasi awal saya bukan duit, saya tetap menyanggupi tawaran tersebut.

Hari ini adalah hari pertama saya mengajar, 4 jam untuk kelas 2 (IPA dan IPS) dan 6 jam untuk kelas 3 (IPA dan IPS). Ternyata luarrr biasa susah mengajar murid yang super bandel ...pusyinngg...

nantikan episode berikutnya...

--= niat yang baik tidak selalu bermotivasi duit =--

(c) dps

Friday, October 28, 2005

@ 012 : Mudik

Selembar tiket mudik itu mahal. Untuk mendapatkannya banyak orang rela membayar lebih, diantaranya adalah aku. Tiket mudik tahun ini aku peroleh dari seorang calo. Mahal bukan hanya sekedar harga tapi juga cara mendapatkannya.

Kisah berawal dari area parkir stasiun Juanda Djakarta Poesat. Seorang calo menawarkan sebuah tiket. Keingananku sholat ied di kampung membuat aku tidak bisa lagi berpikir jernih. Calo yang biasanya aku kecam kini menjadi sahabat, stigma negatifku terhadap mereka selama ini luluh begitu saja dihadapan selembar tiket.

Dalam keadaan terdesak kadang kita menggadaikan nurani agar kepentingan tercapai. Disinilah manusia mulai menganut paham menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Percaloan dianggap sebagai balas upah. Calo mengantri tiket dan pembeli membayar lebih sebagai ganti upah. Calo butuh uang, pembeli butuh tiket. Sekilas terlihat seperti simbiosis mutualisme tapi sebenarnya hal ini merusak ekosistem. Semoga Allah mengampuni kekhilafan hamba-Nya.

Dengan sepeda motor milik calo, aku dibonceng ke rumahnya untuk mengambil tiket. Sempat terlintas keraguan, apakah calo ini bukan rampok, aslikah tiket itu dan lain sebagainya. Tidak mudah bukan menyerahkan diri kepada orang yang baru 15 menit kita kenal.

Kurang dari 30 menit tiket sudah berada ditangan, keasliannya akan teruji pada hari H. Beresiko memang tapi itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan bukan?

Selamat tinggal Djakarta, selamat datang mBlitar wabil khusus Wlingi...

--= semoga kita kembali fitri =--

(c) dps

Wednesday, October 05, 2005

@ 011 : Bahagia

Sejak diciptakan, manusia selalu mencari letak kebahagiaan di dunia ini. Tak sedikit mereka yang mengejar hingga ke pelosok ruang yang sempit. Berbagai daya dan energi dikerahkan untuk menemukannya. Daya dan energi itu termasuk waktu, pikiran, tenaga dan jiwa.

Perlahan mereka mulai menemukan apa yang disebut kebahagiaan. Kebahagian itu ternyata terletak pada materi. Jika kita mempunyai materi yang banyak kita bisa berbuat apa saja sesuai dengan keinginan.

Karena materi menjadi tolok ukur tak sedikit manusia mengorbankan fitrahnya untuk menjadi bahagia. Bahkan mereka menempuh segala cara untuk mendapatkannya. Ada yang melacurkan diri dengan menjual tubuh, menjadi penjilat, pemfitnah, koruptor, penindas, pelit, penimbun, maling dan lain sebagainya. Dengan demikian apakah benar materi adalah sumber kebahagiaan, silahkan berandai-andai sendiri.

Coretan ini tidak mengajak pembaca untuk jadi miskin, materi tetap penting tapi tidak utama.

--= kebahagiaan adalah saat kita dekat dengan-Nya =--

(c) dps

Sunday, October 02, 2005

@ 010 : Kenaikkan BBM

Kerapuhan ketahanan energi nasional membuat Indonesia limbung menghadapi harga minyak dunia yang melangit. Ironis memang, disaat harga minyak dunia tinggi kita bukan menikmati hasil malah menuai rugi. Sebagai negara produsen minyak kita belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan BBM 1,2 juta liter per hari, 700 ribu liternya kita impor sebut pak Purnomo menteri ESDM.

Dengan harga BBM luar negeri yang terus meroket tersebut, pemerintah akan menaikkan harga dengan cara mengurangi subsidi mulai 1 Oktober 2005. Usaha ini menuai badai kritik di berbagai daerah seperti Jakarta, Yogya, Semarang, Surabaya, Makasar, Medan dan kota lainnya. Demo yang terjadi tak jarang berakhir anarkis seperti yang terjadi di salemba depan UKI, saat dibubarkan mahasiswa melempari polisi dengan bom molotov dan batu.

Efek psikologis dari isu kenaikkan BBM mengakibatkan kepanikan, masyarakat berbondong-bondong menyerbu SPBU. Hampir di seluruh pelosok negeri terjadi antrian. Untuk mendapatkan BBM masyarakat harus menunggu sampai satu jam lebih. SPBU adalah tempat yang sangat penting saat itu.

Berbagai kepanikan yang ada diatas menyebabkan BBM langka, kemacetan lalu lintas tak terhindarkan lagi, Jakarta menjadi ruwet (srabut mawut). Saat seperti ini masih ada segelintir orang yang memanfaatkan suasana dengan cara menimbun. Aduh, saya sungguh tidak mengerti bagaimana cara orang seperti itu berfikir ???

Waktu yang Dinanti
Di gedung departemen keuangan tanggal 1 Oktober 2005 jam 00:00 WIB pemerintah diwakili oleh sembilan menteri mengumumkan kenaikan BBM. Sembilan menteri itu adalah menko perekonomian Aburizal Bakrie, menko kesra Alwi Shihab, menteri keuangan Jusuf Anwar, menteri perdagangan Andung Nitimihardja, menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, menteri perindustrian Mari Elka Pangestu, menteri perhubungan Hatta Rajasa, menteri PPN/kepala Bappenas Sri Mulyani, menteri sosial Bachtiar Chamsyah.

Harga premium naik dari Rp 2.400/liter menjadi Rp 4.500/liter, solar Rp 2.100/liter menjadi Rp 4.300/liter, dan minyak tanah Rp 700/liter Rp menjadi 2000/liter. Kenaikan ini diluar dugaan saya, kenaikan yang cukup fantastis tentu saja.

Apakah masyarakat mampu dan mau menerima kenaikkan BBM tersebut, saya kurang tahu. Yang saya khawatirkan adalah jika masyarakat sudah kehilangan kontrol karena tidak mempunyai daya beli dan pemerintah kehilangan legitimasinya bukan tidak mungkin kekacauan Mei 98 akan terulang lagi. Rasanya terlalu negatif saya berfikir tapi berbagai kejadian di tanah air sebelum 1 Oktober 2005 rasanya cukup untuk menjadi tanda peringatan buat saya untuk waspada.

Kantor Pos
Setelah pengumuman kenaikkan BBM,
tiba-tiba kantor pos menjadi tempat penting. Keberadaan kantor pos yang mulai terlupakan sejak munculnya teknologi selular dan internet kini sangat dicari. Hal ini tak lepas dari pencairan biaya kompensasi BBM tahap I, Maret 2005.

Masyarakat kembali berbondong-bondong, kali ini tidak ke SPBU tapi ke kantor pos. Antrian terjadi lagi, masyarakat yang mendapatkan KKB (Kartu Kompensasi BBM) mulai mencairkan dana Rp 300 ribu untuk tiga bulan. SPBU sepi, kembali ke wajah aslinya.

Setelah BBM naik
Seiring dengan biaya kompensasi, badai demo mulai mereda. Meskipun demikian bukan berarti tekanan terhadap pemerintah berhenti. Para sopir angkutan menuntut penyetaraan tarif, mogok terjadi diberbagai daerah, sopir yang masih beroperasi dicegat dan disuruh mogok, orang mau mencari rezeki kok dilarang, begitu rendahkah mental kita. Kasus ini terjadi di Jakarta, Solo dan kota lain.

1 Oktober 2005 jam 18:50 WIB Bali dikagetkan ledakan bom di Jimbaran. Korban tewas lebih dari 20 orang, peristiwa ini disorot dunia internasional. Motif peledakan belum diketahui, ada kaitan dengan kenaikkan BBM atau tidak. Pelakunya-pun masih menjadi tanda tanya. Belum genap tiga tahun Bali kembali diguncang teror, bebarengan dengan itu Jakarta ditetapkan siaga satu. Begitu berantai masalah di negeri ini, semoga "mereka" dan kita tidak putus asa untuk terus mencari solusi terbaik berbagai masalah itu.

"mereka" = pemimpin yang baik

--= mari kita bangun peradaban kita sebagai manusia Indonesia =--

(c) dps

Monday, September 05, 2005

@ 009 : Amerikanisasi (Globalisasi)

Amerikanisasi (globalisasi) memang sangat kuat sekali pengaruhnya terhadap perubahan atau kehidupan di negeri ini. Hal ini dapat kita lihat mulai dari politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Contoh yang paling gampang dapat kita lihat pada budaya remaja jaman sekarang, dengan kostum udelnya ;p.

Perubahan pasti datang, kenapa ? karena dalam perubahan ada sejumlah harapan. Manusia yang tidak berubah akan ditinggalkan oleh jamannya.

Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi perubahan itu ? Dalam perubahan ada faktor yang cukup kuat yang mempengaruhi perubahan itu. Diantaranya adalah informasi. Informasi harus kita imbangi dengan kebijaksanaan sebab tanpa itu kita akan mudah terbawa ke dalam arus provokasi yang menjurus ke arah kekerasan (radikalisme).

Sweeping warga amerika, bakar perusahaan amerika, "bersihkan" antek amerika dsb. Kalau sudah begini siapa yang akan dirugikan, tentu kita sendiri bukan (dalam arti negara) ?

Menyinggung kebijaksanaan tentu tak lepas dari moral, moral mengandung kadar iman dan taqwa di dalamnya. Agar tidak tergilas oleh mesin perubahan, kita harus meningkatkan kadar iman dan taqwa kita disamping ilmu pengetahuan tentu saja. Sebab iman dan taqwa kita lah yang akan membentengi diri dari belenggu negatif perubahan itu sendiri.

--= sudah sejuah manakah kadar iman dan taqwa kita ? =--

(c) dps

Sunday, August 21, 2005

@ 008 : Rezeki (2)

Bersyukur mungkin itu salah satu kuncinya, kita itu kan biasa memikirkan hal-hal yang tidak ada pada kita. Kita tidak pernah memikirkan hal-hal kecil yang kita miliki. Akibatnya kita akan merasa kurang, kurang dan kurang terus. Dikasih uang 500 ribu kurang, 1 juta kurang, 10 juta kurang demikian seterusnya. Akibatnya apa? kita tidak pernah puas dan menjadi kufur bahkan tak jarang timbul rasa iri dengki terhadap rezeki orang lain (naudzubillahi min dzalik).

Kita sering beranggapan, apabila kita mendapatkan sesuatu yang tidak enak maka kita sebut "nasib". Apabila mendapatkan sesuatu yang enak kita sebut keberuntungan.

Lulus sekolah semua mendapatkan kesempatan yang sama ikut tes. Ada yang diterima di perusahaan kita bilang beruntung, ada yang tidak diterima kita bilang nasib. "kita sering menganggap itu baik bagi kita padahal belum tentu sebaliknya juga demikian, Allah lah yang Maha Tahu segala sesuatu". Dari kejadian itu pernahkah kita memikirkan hikmahnya.

Banyak orang bisa lulus ujian dari kehimpitan daripada kelapangan. Diberi harta yang sedikit, banyak sedekah, banyak temen, rajin beribadah. Diberi harta yang banyak malah semakin pelit semakin sombong. Mungkin klise tapi itulah yang banyak terjadi dihadapan kita. Mereka yang kekurangan justru punya rasa solidaritas yang tinggi daripada mereka yang berlebih.

Hidup ini penuh dengan pilihan, bahkan beli sepatu pun kita harus memilih, beli baju juga memilih, pekerjaan kita bisa memilih, calon istri milih nggak ya? (hehehe). Keimanan dan kecerdasan kita yang mendasari pilihan kita. Maka ada pepatah kuno yang cukup bagus. "Tuntutlah ilmu sampai ke Malang" ...;p.

Allah menciptakan dunia ini lengkap dengan sunatullah (hukum) dan inayatullah (lali artinya tapi kalau tidak salah artinya pertolongan ;p) Nya. Contohnya : orang kalau dibacok wetenge (perutnya) itu mati bahasa suroboyonya modar ;p (sunatullah). Tapi ada beberapa orang kalau dibacok wetenge tidak modar (inayatullah).

Sunatullah itu kita jadikan pedoman. Kalau kita mau pandai ya rajinlah belajar, kalau mau kaya ya giatlah menabung, kalau mau istri yang soleh ya jangan nyari di plesiran ato cafe jadilah orang yang soleh. Sederhana, klise ato idealis mungkin tapi memang logikanya seperti itu. Termasuk jodoh dan nasib...

--= zikir, fikir, ikhtiar =--


(dps)

@ 007 : Rezeki (1)

Rezeki sudah ditentukan oleh Allah. Dia Yang Maha Tahu Segalanya. Jadi rezeki saya dan rezeki anda tidak sama, rezeki saya dan rezeki anda tidak mungkin tertukar karena Allah telah menciptakan makhluk lengkap dengan rezekinya. Coba bayangkan seandainya rezeki itu harus berebut. Tapi meskipun demikian kita tidak boleh pasif, harus berusaha (ikhtiar) dan berdoa (tawakkal) sebaik mungkin, masalah hasil kita serahkan kepada-Nya.

Yang sering kita risaukan itu kan hal-hal seperti itu, merasa seolah-olah sudah berusaha dengan keras tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Bahkan ada yang tidak berusaha mendapat hasil yang luar biasa. Tenaga, pikiran, jiwa dan raga kita kerahkan untuk urusan dunia, repotnya hati juga kita sibukkan untuk urusan tersebut. Akibatnya apa? muncul paradigma seperti tadi, merasa sudah berusaha tapi kok tidak mendapatkan hasil. Semakin kita risau maka kita akan diperbudak oleh pikiran-pikiran seperti itu. Waktu kita akan habis untuk memikirkan hal-hal yang merisaukan tersebut.

Ada sedikit wejangan yang bagus. "Barangsiapa sibuk untuk urusan dunia maka dia akan diperbudak oleh dunia tersebut, barangsiapa sibuk memikirkan-Nya maka dunia akan melayaninya". Wejangan tersebut berarti bahwa kita jangan memikirkan dunia saja sehingga lupa kepada Allah, Tuhan yang membuat kehidupan.

Kita tidak disuruh mencari uang tapi kita disuruh menjemput rezeki...;p*)Aa Gym.

Maka bersukurlah kita yang masih bisa berfikir dan mengetahui mana yang jelek mana yang baik, mana yang bersih dan mana yang kotor. Tidak semua orang mendapat hidayah di dunia ini. Hanya Allah yang Maha Menentukan siapa yang diberi hidayah. Maka kalau kita merasa mengerti kasih tahu kepada yang tidak mengerti, kalau kita merasa kaya bantu kepada yang tidak punya. Kalau kita merasa waras ya jangan bertindak seperti orang gila...;p.

--= zikir, fikir, ikhtiar =--


(c) dps

Thursday, August 18, 2005

@ 006 : Terjajah di Hari Merdeka

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, selalu di puja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.

Dirgahayu ke-60 NKRI, semoga menjadi negara yang "gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo".

Agustus adalah bulan yang menyenangkan selain bulan Ramadhan buatku. Semua ini tak lepas dari perjalanan rohani yang aku alami tentunya.

catatan Agustus 2004, untung masih tersimpan di PC ;p...
Dulu, waktu kecil di Wlingi sebuah desa kecil di kaki gunung Kelud mBlitar, aku termasuk salah satu orang yang paling senang jika bulan sudah Agustus. Kenapa? karena banyak hiburan yang bisa aku liat dengan gratis waktu itu, mulai dari lomba-lomba, karnaval, baris-berbaris dari ibu-ibu sampai pelajar, gugur gunung gotong royong ngecat pager dsb. Maklum org nDeso selalu haus hiburan ;p.

Aura dan suasana seperti itu lama sudah tak aku rasakan sejak aku pindah ke Djakarta. Entah, budaya seperti itu masih ada apa nggak kini? Mungkin ada walaupun tak semeriah dulu ato aku saja yang mungkin sudah kehilangan rasa itu.

17 Agustus 2004 di Kebon Sirih Djakarta, kebetulan aku lagi sendiri di kamar kos. Teman sekamarku (mas Erfan) lagi kerja waktu itu. HHmmmm, Djakarta kadang memang tak memanusiakan manusianya, hari libur begini kok ya masih kerja, apa yang dicari? kadang aku juga tak mengerti...

Dari pagi sampai siang agak sore, aku pelototin TV berharap ada acara yang menayangkan riuh meriah geliat Agustus-an di pelosok tanah air. Jujur saja memang aku lagi rindu banget dengan suasana masa kecilku, dulu.

Kebetulan ada stasiun TV yang menyiarkan perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan, bung Karno, bung Hatta dan Sutan Sjahrir, pikiran ini langsung melayang ke sejarah, seolah-olah aku lagi duduk di bangku kelas. Terlalu berlebih rasanya tapi memang itu kenyataanya.

Orang berjiwa besar (pahlawan), menguras tenaga dan pikiran mengorbankan semuanya hanya untuk satu kata yaitu "MERDEKA". Aku bangga dengan mereka, dengan bangsaku dan nenek moyangku ternyata dulu memang hidup layak (enak) itu sulit, tayangan itu sama dengan cerita bapak dan eyangku dulu, hhmmm...;(.

Dari situ pikiranku kembali menerawang, di jaman sekarang ini sudah sejauh manakah kita mengisi hidup ini dengan sesuatu yang positif? kenapa masih ada yang teler, masih ada gelandangan, masih ada penindasan, degradasi moral, masing-masing tentu punya jawabannya. Yang jelas, jangan pernah meninggalkan sejarah, semoga jiwa dan semangat mereka (baca pahlawan) terus ada dalam dada...
akhir tulisan...

--= sudahkah kita disebut pahlawan, meskipun untuk diri sendiri =--

(c) dps

Sunday, January 09, 2005

@ 005 : Saat Itu Wisuda

9 Januari 2005 jam 12 siang di JCC gelora Bung Karno kulukis lagi sejarah dalam hidupku. Pada hari itu aku wisuda, hhmmm lulus juga akhirnya setelah tiga tahun berjuang, lelah dan penat serasa kuliah dulu luluh ditelan lautan kegembiraan. Rasa capek, sering bolos, naik bus pulang malem, kehujanan di salemba kini sudah ga aku rasakan lagi. Kadang aku kangen banget merasakan hal-hal seperti itu tapi apa daya hidup memang sebuah perjalanan perubahan. Satu perjalanan selesai perjalanan lain masih menunggu di depan.

Saat itu ortu baru pertama kali ke jakarta setelah 4 tahun 3 bulan aku disini. Seneng banget rasanya liat ortu bisa menyaksikan diri ini diwisuda, setitik sinar kebahagiaan sempat terlihat pada wajah mereka. Dad mam i luv u so much, deeply trully. Semoga aku bisa menyenangkan mereka untuk selamanya, ya selamanya. Ya Allah berikanlah hamba-Mu kesempatan...

Saat itu juga ortu berkenalan ama bapak dan mamanya dek H***. Kecanggungan sempat aku saksikan diantara mereka. Maklum sama-sama baru kenal, gitu loh. Tapi aku tidak mau ikut campur urusan orang tua, aku yakin mereka cukup mengerti dan memahami masing-masing, semoga...

Jam 5 sore meninggalkan JCC dan langsung meluncur ke malibu kelapa gading untuk foto studio bersama. Gerimis mengiringi laju mobil kijang hijau, rasa capek udah begitu terasa dari peserta tapi capek membawa bahagia ternyata sangat membekas di dada.

Kegemaranku akting di depan kamera sudah tidak membuatku canggung untuk bergaya lagi. Perlahan cahaya kamera mulai menyentuh wajah dan mengabadikanku dengan toga kebanggaan ini. Tak sabar rasanya pengen lihat langsung hasilnya, hhhmm dasar nafsu selalu saja mengiringi manusia disegala suasana.

Saat itu, satu hari penuh aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, rasanya...

Congratulations

--= Semoga keindahan ini abadi =--

(c) dps

Friday, October 15, 2004

@ 004 : Hasil dari Sebuah Perjuangan

9 Oktober 2004 jam 5 sore, dengan si legenda (motor kesayanganku) kutelusuri jalan ini menuju DEPOK, sebuah kota di selatan Djakarta. Jarak dari basecamp KSBD26 (tempat aku tinggal) ke Depok cukup jauh, jika ditempuh dengan bus kota bisa sampai 2 jam + macet.

Bagaimanapun caranya hari ini aku harus ada di sana, ya harus ada di sana untuk satu tujuan yaitu minta tanda tangan dari bapak dosen pembimbing Tugas Akhir. Sudah sering rasanya aku meremehkan dan menunda suatu pekerjaan. Bahkan disaat-saat genting pun kadang kebiasaan itu masih saja menghinggapi, kebiasaan kurang baik yang terpupuk dari kecil memang tidak mudah untuk dihilangkan, huuhhh????.

11 Oktober 2004 jam 3 sore, aku ke Tangerang. Ini adalah kali pertama aku masuk kota itu dengan motor. Perasaan bingung sempat menghinggapi, nekad adalah modalku saat itu selain nomer telepon kampus. Tanpa alamat dan tak tahu jalan kuberanikan diri meluncur kesana, toh aku bisa nanya, lihat rambu-rambu lalu lintas dan telepon pikirku. Tujuan masih sama dengan hari kemarin, mengejar dosen penguji untuk meminta tanda tangan.

Jalan panjang telah aku tempuh, sore itu kulihat sisi lain kota Djakarta. Pabrik-pabrik di kanan kiri jalan dan bentangan sawah membuat jiwaku terhanyut dalam lamun. Tekadku ke Tangerang sudah bulat, saat seperti ini hidup kurasakan begitu indah. Tekanan dan himpitan yang selama ini membutakanku terhempas begitu saja.

Memasuki kota Tangerang kembali rasa bingung menggelayuti, segera kucari wartel untuk menanyakan alamat kampus. Pulsa telepon genggamku tak mencukupi. Obrolanku dengan pelayanan pelanggan kampus berlangsung sedikit alot, hal ini disebabkan ketidakpahamanku dengan jalanan di kota ini. Setelah kurasakan cukup segera kulanjutkan perjalanan, menuju kampus tujuanku dari awal.

Cukup lama kutelusuri jalanan di Tangerang, akhirnya kutemukan juga kampus itu. Segera kucari dosen yang aku maksud, sedikit menuggu karena saat itu pak dosen lagi mengajar. Tanda tangan akhirnya kudapat, tak bisa lagi kutahan api kegembiraan yang berkobar spontan.

Kini semua telah selesai kujalani, rasa capek yang tumbuh dari perjuangan berkembang menjadi kegembiraan. Satu hal yang dari dulu aku pegang adalah lewati setiap proses dengan baik, sebaik mungkin kita bisa. Setiap proses yang baik akan berbuah manis meskipun itu pahit.

--= aku lulus =--

(c) dps