Monday, April 09, 2007

@ 037 : Mal dan Plaza

Mal adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur bangunan sifatnya melebar (luas). Sebuah mal memiliki standar paling tinggi sebanyak tiga lantai. Jika ditinjau dari lokasi, mal sebenarnya diperuntukkan berada di dekat lokasi perumahan. Karena itulah bangunan mal melebar, karena dalam pada umumnya lokasi yang dekat perumahan ini, harga tanah relatif lebih murah daripada pembangunan sebuah plaza, yang berada di lokasi pusat kota.

Sedangkan plaza atau Town Square adalah pusat perbelanjaan yang secara arsitektur bangunan dirancang tinggi, memiliki lebih dari tiga lantai. Sebuah plaza umumnya dibangun dengan pilihan lokasi pusat kota, karena itulah bangunannya mengutamakan banyak lantai (tinggi), dengan tujuan untuk menghemat tempat.

Itulah definisi yang saya kutip dari wikipedia, jika berpegang pada definisi diatas apakah mal atau plaza di negeri ini sudah sesuai, sepertinya tidak. Mal atau plaza, bangunan itu? tidak mudah untuk membedakannya. Batas antara keduanya remang atau memang sudah cair. Sebuah gedung tanpa nama sulit dibedakan lagi jenisnya, ini mal atau plaza. Bagaimana dengan anda, mungkin bisa membedakan. Kenapa hal ini bisa terjadi? saya pikir karena ketiadaan semangat untuk memegang pakem.

Darimana asalnya kata itu (mal atau plaza) hingga masuk ke negeri ini saya tak tahu. Mungkin dari luar sana, negeri antah berantah yang konon katanya maju. Lalu diserap bulat begitu saja tak peduli apakah orang mengerti atau tidak. Hal seperti ini sudah lumrah, busway dan real estate barangkali adalah segelintir contoh lain saja.

Sekarang, apakah Atrium Senen itu mal atau plaza, tergantung pemiliknya bukan. Jika pemiliknya memberi nama plaza Atrium ya berarti plaza. Lalu bagaimana dengan EX dan Sarinah, disebut mal atau plaza, entahlah. Kalau begitu adanya berarti ini sebuah ketidakkonsistenan dong. Tepat dan hal itu dibiasakan.

Coba, mana yang tepat Ratu Plaza atau Plaza Ratu, Plaza Senayan atau Senayan Plaza, Plaza Semanggi atau Semanggi Plaza, Blok M Mal atau Mal Blok M, Mal Taman Anggrek atau Taman Anggrek Mal, Mal Pondok Indah atau Pondok Indah Mal. Ah itukan masalah bahasa saja. Anda benar, jika dari bahasa saja sudah terlihat kerancuan apalagi dari esensi gedung itu sendiri.

Tapi sudahlah, yang jelas saya percaya keduanya sama-sama tempat keramaian, tempat orang membunuh waktu dan menghamburkan uang yang telah dicari dengan susah. Disinilah budaya konsumerisme dibina, dipupuk dan ditumbuhkembangkan.

Berapa banyak mal atau plaza yang telah dan sedang dibangun di negeri ini, saya juga tak tahu. Yang saya tahu pasar tradisional semakin terpinggirkan dan kota ini sering banjir. Pergeseran hidup gaya terjadi, kebiasaan ke pasar tradisionalpun ditinggalkan beralihlah masyarakat ke mal atau plaza. Minum segelas kopi yang harganya lebih mahal dari lima liter bensin sudah merupakan suatu kewajaran. Semakin anda sering belanja di mal atau plaza hal itu berati semakin enak dan sukses hidup anda, benarkah pemikiran seperti itu? tak perlu dijawab.

Di kota ini sudah berapa mal atau plaza pernah saya kunjungi, tak bisa lagi dihitung. Mulai dari pinggir sampai tengah kota rasanya sudah, yang terkenal saja tentunya. Mal atau plaza yang baru dibangun sering menggoda gairah untuk menjamahnya. Rasa ingin tahu adalah naluri alam yang dimiliki setiap insan.

Mal atau plaza adalah tempat berkumpul berbagai macam orang, ada yang asli dalam dan luar negeri. Usia dan gaya merekapun beragam, mulai dari bayi hingga mbah, gembel hingga konglomerat, yang pamer belahan dada hingga yang pakai jilbab, bak virus flu siapapun bisa terinfeksinya. Yang bikin decak yang setengah-setengah, yaitu asli pribumi tapi tampilan bule, sosok identitas yang jelas dalam ketidakjelasan. Tidak hanya tempat berbelanja mal atau plaza juga tempat bersosialisasi, penegasan identitas dan pertemuan segala budaya.

Perlu menjadi catatan tersendiri adalah keberadaan musholla. Tempat ibadah yang satu ini sangat dibutuhkan bagi kaum agamis. Pihak pengelola ada yang membangunnya dengan baik dan layak, seperti memberi tempat yang luas, berpendingin AC, menjaga kebersihannya. Hal ini saya temukan di plaza Senayan, Artha Gading dan Pondok Indah Mal II. Namun, ada juga yang membangunnya asal ada, lokasinya di area parkir, tempatnya sempit, kotor dan tak terawat. Pendek kata, amat sangat pincang sekali dengan kemegahan toko-tokonya. Hal ini bisa ditemukan di mal Taman Anggrek, plaza Semanggi dan Atrium.

Di tengah zaman edan dewasa ini, apakah masih penting untuk membicarakan sarana ibadah, entahlah. Di saat orang sudah mabuk terhadap materi masihkah perlu menuntut sarana ibadah, entahlah.

Kegeraman tak terbendung jika sebuah mal dan plaza yang dibangun sangat megah abai terhadap fasilitas yang satu ini. Kepada siapa harus saya lampiaskan amarah ini? saya tak tahu. Apakah ibadah sudah menjadi hal yang aneh, apakah kesejukan jiwa setelah dekat kepada-Nya bukan sesuatu yang penting lagi. Jika memang begitu adanya, benar-benar sebuah kengerian yang nyata.

(c) dPs~
Kemayoran - Jakarta, 08 April 2007 - 01:30

Thursday, April 05, 2007

@ 036 : Ketika hanya Ada Aku

Surya tenggelam sudah tadi, gelak tawa dan riuh canda orang sudah tadi, kini dalam hening hanya ada aku. Hanya jam dinding yang berdetak tapi kali ini detaknya pun tak kudengar. Tak ada bunyi tak ada cahaya, sunyi yang akut menghampiri.

Tiba-tiba bulu kuduku merinding, tubuh ini menggigil dan gemetar, sekarang tak ada lagi batas antara. “Wahai kamu, sudah cukup nikmat-Ku, bagaimana jika sekarang Aku panggil menghadap” datang suara menyeru.

Tak lama kemudian, air mata ini menetes, badan dingin dan keringatku mengucur. Jiwaku bergetar tak kuasa lagi untuk membendungnya, aku takut dan sangat takut sekali. Aku berteriak kencang meminta tolong tetapi tak seorangpun yang mendengar. Kemanakah orang-orang yang aku cintai, teman-teman dan tetangga yang bercanda denganku tadi siang, kemanakah semuanya?.

“Jangan sekarang, aku belum siap, bagaimana dengan orang-orang yang aku cintai”. Beribu jawaban penuh alasan mencoba menjawab suara itu berbarengan dengan air mata yang kian deras, deras dan deras.

“Kalau begitu, kenapa kakimu gemar melangkah ke lembah nista, matamu suka melihat yang hina, acuh setiap mendengar seruan-Ku, senang tinggalkan perintah dan bahkan berkawan dengan larangan-Ku, apakah kakimu lumpuh, matamu buta, telingamu tuli, dan hatimu beku” seru suara.

Aku diam.

Kapan dan dimanapun saat teringat itu, hatiku kembali menggigil berbarengan dengan tetes air mata. Pun saat jariku menekan keyboard waktu mengetik catatan ini, aku tak kuasa. Akankah sia-sia bila akhir waktu datang menjemputku? Duh Gusti Allah, hamba-Mu ini lemah dan hina, izinkanlah hamba menghadap-Mu dengan semua kebersihan jiwa dan ragaku. Bila waktu itu datang, akhirilah dengan jalan-Mu yang terbaik, Amin.

Dua lagu dari mas Opick…

1. Bila Waktu Telah Berakhir

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masihkah ada jalan bagimu
Untuk kembali mengulang ke masa lalu

Dunia....
Dipenuhi dengan hiasan
Semua..
Dan segala yang ada akan kembali pada-Nya

Bila waktu telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tinggalah sepi...

2. Irhamna

Tinggi menggunung dosa-dosa kami
Bertambah tinggi semakin hari
Berjuta kesalahan berlapis kesombongan
Selalu saja datang menghampiri

Langkah yang rapuh jiwa yang lemah
Segala salah adalah milik kita

Segala puji hanya bagi-Mu
Lautan ampunan kasih sayang-Mu
Engkau yang pemurah Engkau yang pemaaf
Hanya pada-Mu hati ini berharap

Irhamna ya Allah ya Rahman ya Rahim 4x

Kasihanilah kami
Ampunilah kami
Selamatkanlah kami
Ampun aaaa
Ampun aaaa

Langkah yang rapuh jiwa yang lemah
Segala salah adalah milik kita

Irhamna ya Allah ya Rahman ya Rahim 4x

(Irhamna ya Allah ya Rahman ya Rahim)
Ya Allah ya Rahman ya Allah ya Rahim
Ya Allah...
(diulang 2x)

(c) dPs~
Kemayoran - Jakarta, 04 April 2007 - 02:30

Thursday, March 08, 2007

@ 035 : Tiga Pelayan Pelanggan

Beberapa hari yang lalu aku ke BCA jalan Sabang mau mengurus duit, pakai sandal jepit, celana panjang katun, kaos oblong dan jaket parasit (seperti yg dipakai tukang ojek). Iseng-iseng aku bertanya produk M-BCA (sebenarnya sudah daftar) dan dilayani oleh wanita setengah tua yang goresan kecantikannya masih ada. "Mbak kalau saya mau pakai produk M-BCA gimana sih?" tanyaku membuka obrolan. "Mas daftar dulu dari ATM lalu ke operator telekomunikasi untuk ganti kartu M-Banking" jawabnya coba menjelaskan. Pelayanan mbak Desy sebut saja demikian ini cukup ramah dan informatif, itu yang aku rasakan.

Untuk bisa transfer M-BCA harus daftar via Bank, disini ada masalah dengan tabunganku. Nama yang tertulis di buku Dwi Prasetyo Sasongko (lengkap seperti ibuku memberi nama dulu) sedang di KTP hanya Dwi Prasetyo S (kalau ini pak RT yg memberi nama). Aku sudah tahu kalau ini akan jadi masalah sebab aku pernah melihat hal ini beberapa tahun yang lalu pada pelanggan lain, entah itu soal nama atau tanda tangan. BCA terlihat saklek disini tapi mungkin itu sudah prosedur yang harus dijalankan. Karena aku belum merasa butuh banget maka ya sudahlah gak bisa transfer dulu no problem (jare Thukul). Dari sini pelajarannya adalah, berhati-hati lah dengan nama, tentu kita pernah medengar bukan berapa banyak nama yang salah tulis di ijazah, paspor, ktp, sim dan surat-surat penting lainnya. Kesimpulannya : berilah nama yang mudah ditulis dan jangan panjang-panjang.

Dengan pakain yang sama, setelah dari BCA aku ke BNI Kebon Sirih, urusannya masih sama yaitu masalah duit. Begitu masuk satpamnya senyum tapi kurang manis sedikit, aku belagak bingung. Si satpam nyamperin, "bisa dibantu Mas?" tanyanya. "Mau nabung pak" jawabku ramah. "Ini form nya, silahkan diisi, sebelah sini mas" balas pak Satpam, sambil nunjukin arah dan formulir tabungan.

Selesai transaksi, aku ke pelayan pelanggan sebut saja namanya Susi, sepertinya sudah ibu-ibu tapi kecantikannya waktu gadis dulu juga masih tersisa. "Bisa dibantu mas ?" Susi membuka obrolan agak sinis. "Beberapa waktu yang lalu saya ke ATM, terus ada peringatan kalau kartu plus saya harus diganti, itu bener ya mbak?". "Iya mas betul, itu sudah satu tahun kok belum diganti, kalau dulu gantinya gratis sekarang bayar " jelasnya. "Oooo, ya sudah gak papa mbak" jawabku. "Ini formulirnya silahkan diisi.." mbak susi menyodorkan kertas isian. Dalam formulir pada isian berikut aku isi, pekerjaan : XXX, gaji : X juta.

Formulir kemudian dibaca sama mbak Susi. Dan apa reaksinya saudara-saudara, heheheh :). Mbak Susi yang tadi agak sinis kontan jadi sopan, ramah dan baik, malah saya ditawari kartu kredit, kpr, dan asuransi pendidikan. Sejauh itu juga pelayanan mbak Susi sangat memuaskan.

Dengan pakaian yang sama, dari BNI saya ke Grapari gedung Alia sekitar patung tani. Begitu masuk, disambut ketus oleh penjaga nomer sebut saja Safari sebab dia pakai safari mirip paspampres (atasan dan bawahan biru dongker). "Mau ngapain mas ?" nadanya gak ramah penuh selidik dan curiga. Kampret, dalam hatiku, untung aku gak langsung emosi. Orang kayak begini yang membuat negeriku gak maju-maju, batinku. "Anu mas saya mau ngurus M-Banking, kalau mesti bolak-balik urusan duit ke Bank, saya malas". "Emang kartunya belum bisa ya mas?" tanya si Safari coba menyelesaikan masalahku."Maaf mas, saya gak ada waktu, nomer antrian saya mana, saya ada perlu sama PP (Pelayan Pelanggan) bukan dengan anda" jawabku agak ketus. Sepertinya jengkel, si Safari memberiku nomer antrian dan orang-orang sekitar langsung menatapku. Untung aku gak bilang, kamu bodoh sih, makanya suruh jaga nomer (maaf kalau kasar).

"Ada yang bisa dibantu mas" tanya Susan sebut saja begitu, pelayan pelanggan Grapari. Usianya masih muda, gak tahu sudah berkeluarga atau belum, instingku belum bisa membedakannya."Saya mau tukar kartu M-Banking mbak" jawabku ramah. Di situ aku dan Susan ngobrol ngalor ngidul, mulai dari kerja sampai banjir. Saat itu terdengar samar-samar si Safari diomelin sama seorang wanita entah itu teman atau bosnya, "Hat-hati kamu sama orang, jangan dilihat dari penampilannya, biar pakai sandal jepit siapa tahu duitnya sekarung". Wah, dengar kata-kata seperti itu, batinku tersenyum senang. Untung masih ada orang yang sadar di lingkungan ini.

Satu hari berurusan dengan tiga PP (Pelayan Pelanggan)

(c) dPs~
Kemayoran - Jakarta, 22 Maret 2007 - 16:30

@ 034 : Thukul dan Empat Mata

Thukul adalah orang yang polos, lugu, tidak pinter, dari ndeso, dan berhasil dan sukses, dalam arti berlimpah materi. Konon untuk mengisi satu acara saja si Arwana ini berbandrol 30 juta. Dari sosoknya yang orisinil itulah acara yang dibawakannya di Trans 7 merakyat. Dari sini penonton merindukan tontonan yang membumi, polos, dan jujur.

Sosok Thukul yang pekerja keras, pernah jadi jongos, sopir dan berbagai profesi lain yang tipis duit kemudian sukses. Pendek kata untuk menempuh kesuksesan Thukul mau melewati jalan yang panjang dan terjal. Bukan dengan jalan pintas seperti membuat video porno, nikah sirih dengan konglomerat yang sudah beristri lalu saling tolak di media, dan berita sensasi lain yang memuakkan. Thukul adalah lambang kegigihan wong cilik yang sukses oleh karena itu dia dicintai.

Dulu, awal menonton acara tersebut aku tidak tertarik, presenternya tidak pinter, canggung, dan guyonannya kasar tidak mendidik mirip di pasar atau terminal. Tapi soponyono hal yang demikian malah disukai pemirsa. Acara empat mata Thukul tentu saja adalah antitesis dari acara talkshow sejenis yang ada. Dari sinilah teori out of the box terbukti benar.

Lama-kelamaan acara ini sudah mulai membosankan, ketika glontoran-glontoran uang mengalir deras lewat media iklannya, acara Thukul sudah berasa aneh. Misalnya saat obrolan lagi seru tiba-tiba muncul Pepi tokoh pendukung Thukul nawarin obat flu atau jasa telekomunikasi. Selain itu Thukul yang tadinya ndeso (sederhana, lugu, polos) mulai ditampilkan dan dicitrakan menjadi orang kota berduit, lihat gayanya waktu naik moge di bunderan HI. Pencitraan yang demikian adalah aneh.

Penonton kian cerdas. Aku setuju ketika dia (Thukul) tidak lagi bisa bermetamorfosa dan meninggalkan penontonnya (wong ndeso) maka kepopularitasannya tinggal menunggu waktu. Dari sini aku juga belajar bagaimana duit bisa membentuk seseorang. Ingat fenomena ratu ngebor dari Pasuruan yang pernah menggegerkan jagad dangdut.

(c) dPs ~
Palmerah- Jakarta, 2 Maret 2007 - 11:18

Wednesday, February 28, 2007

@ 033 : Ingin Kaya

Kaya, satu kata yang sering memenuhi isi kepalaku, kaya dengan definisi berlimpah materi tentu saja. Semenjak itu rasa resah dan gelisah terus membayang bahkan tak jarang menikam hati di kemalaman. Hidup seperti ini sungguh tidak enak dan perasaan ini adalah penyakit yang tentu saja harus aku lawan. Sebab waktu di desa aku merasa hidupku tenang dan damai. Dari sinilah aku mulai belajar dan mengerti bahwa uang <> bahagia.

Kalau mau kaya jangan sekolah, jangan jadi pegawai, biarkan uang bekerja untuk kita, percayalah dengan kekuatan daya pikir dan lain-lain adalah dogma yang terus ditancapkan tapi semoga aku sudah imun. Apakah ada yang aneh dengan hal ini ? menurutku ada, apakah itu ? kapan-kapan saja dibahas.

Menjadi kaya (banyak duit) adalah impian dan harapan bagi mereka yang miskin. Mempunyai rumah mewah, mobil keluaran terbaru dan gaya hidup wah mungkin adalah dambaan banyak orang. Mencari uang sebanyak-banyaknya lalu ditimbun biar disebut kaya.

Beberapa tahun yang lalu Bejo pernah mengobrol dengan seorang direktur perusahaan swasta, kalau dilihat dari segi materi si direktur ini tentu jauh dari kurang. "Menurut kamu apa yang membuat hidup ini bahagia?" si direktur mulai membuka obrolan. "Wah, kalau saya sih punya rumah bagus, mobil, dan enggak bingung kalau nanti anak sekolah Mas..." jawab Bejo jujur dan datar. "Salah!" si direktur memotong jawaban Bejo. "Lalu apa mas?" tanya Bejo dengan penuh rasa ingin tahu. "Bahagia itu menurut saya ada tiga, yaitu enak makan, enak tidur sama enak ehem-ehem sama istri".

Tidak salah memang menjadi kaya. Tapi ingat budaya asjadut (asal jadi duit) lah yang merontokkan sendi-sendi tatanan kita. Lihat, betapa gampangnya seorang anak gadis menjual keperawanannya, mengobral cintanya dan orang berilmu melacurkan ilmunya demi selembar rupiah. Bagaimana bisa artis yang tidak punya kontribusi terhadap kehidupan bisa bergaji XXXX kali lebih besar daripada pak dhe saya yang macul di kampung, bu lek saya yang ngajar di SD inpres.

Ide kapitalis ini kadang saya rasa semakin aneh dan ngawur. Memang, kapitalisme adalah masa dimana matinya sebuah ideologi. Tentu aku masih ingat ketika beberapa waktu yang lalu diadakan reuni ikatan alumni W di bumi perkemahan Cilandak. Terus salah satu calon ketua berkampanye, kalau saya kepilih maka nanti kalau kita adakan reuni lagi gak perlu bayar tapi malah kita mendapat bayaran. Terus lihat motor dan mobil yang banyak itu, itu kan bisa kita jadikan duit, misal dengan usaha spare part dll. Hmmm, ini sebenarnya acara silaturahmi apa dagang ? Dan pada saat itu juga aku sadar, bahwa yang ada di kepala calon ketua itu adalah duit duit dan duit.

Oleh karena itu juga aku tidak memilihnya karena di acara seperti ini aku tidak butuh duit. Aku percaya bahwa orang yang melihat masalah adalah duit tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menambah masalah. Lihat sampah yang dilihat duit, lihat kemacetan yang dilihat duit, lihat banjir yang dilihat duit. Masih ingat bukan dengan iklan sebuah operator telekomunikasi di sebuah kuburan di desa kemarin. Aku juga percaya orang seperti ini kalau jadi pemimpin tentu akan membela yang bayar.

Kejadian serupa juga terjadi pada paguyuban P5 (bukan nama sebenarnya) saat acara kumpul-kumpul rutin. Beberapa orang (lebih dari satu) nyletuk daripada kita kumpul-kumpul doang begini bagaimana kalau diadakan bisnis saja, ya bisa bisnis A, B, C dan lain-lan lah. Kontan hal ini membuat aku senyum kecut.

Beberapa hari yang lalu malah aku dengar berita lucu, seorang kawan bercerita bahwa si K (cowok) yang berbadan kurus ingin gemuk. Sampai dia rela bela-belain beli susu XXX. Padahal harga susu itu kalau tidak salah 250 ribu per kaleng.

Selain itu aku juga pernah mendengar temanku (L) yang berkulit gelap beli cream pemutih, tujuannya tak lain adalah ingin menyulap kulitnya yang gelap menjadi terang. Harga cream pemutih itu tidaklah murah, ada yang 30 ribu sampai ratusan ribu per botol. Kalau sebulan saja habis satu botol, tentu bisa dibayangkan berapa besar duit yang harus dia habiskan. Contoh lain adalah si M (cewek) yang ingin berbadan langsing (bab ini kapan-kapan aja dibahas).

Kenapa hal-hal seperti itu bisa terjadi? tak lain adalah pemahaman tentang persepsi yang keliru, persepsi tentang realitas. Dalam persepsi si K orang yang gemuk itu adalah identik dengan orang yang sukses. Dalam persepsi si L orang yang berkulit putih itu adalah orang ganteng dan dalam persepsi si M orang yang langsing itu adalah orang cantik. Selama kita tidak berani mendekonstruksi persepsi-persepsi tersebut maka tidak perlu mengeluh kalau hidup ini dirasa semakin susah. Wong orang yang gemuk, yang putih, yang langsing yang lebih kita hargai daripada yang pinter, yang soleh, yang beriman, yang berbakti pada ortu dll.

Lihatlah juga ketika banjir melanda Jakarta kemarin, tergambar jelas bahwa uang tidak bisa berbuat banyak, pada kemanakah orang yang berduit saat itu. Uang memang bisa membuat kita senang tapi saya percaya bahwa uang bukanlah segalanya. Tidak salah ingin kaya dan juga tidak masalah kalau tidak kaya. Yang paling utama adalah menyiapkan mental, sehingga kalau jadi kaya tidak sombong dan kalau tidak kaya juga tidak putus asa.

INGAT di alam akhirat nanti kita akan ditanya, darimana kau dapatkan hartamu dan kau pergunakan untuk apa?

(c) dPs~
Palmerah - Jakarta, 02 Maret 2007 - 14:40

Friday, January 12, 2007

@ 032 : Konser Tewaskan 10 Orang

Berita ini mungkin sudah basi tapi tidak apa-apa, demi kesehatan saya harus menulisnya. Konser kelompok musik ungu di Stadion Widya Manggala Krida, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Selasa (19/12/2006) malam menewaskan 10 orang penontonnya. Peristiwa ini terjadi akibat berdesak-desakan dan saling injak antar penonton.

Korban tewas adalah sebagai berikut :
"Ratih Wulandari (17) warga Pemalang; Nurhikmah (15), warga Kedungwuni, Pekalongan; Adi Santoso (20), warga Kutorejo Kajen, Pekalongan; Supriyanto (15), warga Bojong, Pekalongan; Suwito Jati (15), warga Pemalang; Andi Satria (15), warga Salakbrojo, Pekalongan; pasangan suami-istri, Eko Yulianto (20) dan Nok Oviatun (17), warga Salakbrojo Kedungwuni; dan Anton Alatas (16), warga Batang." (Kompas, Rabu, 20 Desember 2006).

Dalam acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV Kamis (11/1) pukul 22:30, ibu Rizkiyah tak kuasa menahan tangis saat ungu melantunkan lagu Andai Ku Tahu. Spontan, beliau teringat Nurhikmah, anak perempuannya yang tewas. Air matanya mengalir deras membuat suasana menjadi bisu. Saat itu juga dadaku sesak menyaksikannya, perih. Ya Allah, kuatkanlah hati ibu Rizkiyah, bimbinglah dia, dia adalah orang desa yang jujur, polos dan tidak tahu apa-apa.

Ibu Rizkiyah menceritakan bahwa tadinya ia sempat melarang keinginan putrinya untuk nonton, tapi putrinya bilang kalau dia ingin bisa melihat idolanya langsung bukan hanya di TV saja. Putrinya juga tidak punya uang tapi ada temannya yaitu Ani yang mau meminjamkan uang Rp 20 ribu. Nurhikmah, Ani dan Casmari naik satu sepeda motor menempuh jarak 15 Km ke stadion.

Mendengar cerita ini, dadaku bertambah pilu. Tergambar figur seorang ibu yang ingin anaknya senang dan perjuangan seorang gadis desa dengan kehidupan yang sederhana rela meminjam uang, menempuh jarak yang tidak dekat hanya untuk melihat langsung idolanya. Ya Allah, ampunilah dosa almarhum dan terimalah amalanya. Peristiwa ini mengingatkanku pada masa lalu.

Waktu itu di desa jika ada konser dangdut sering ada yang ribut dan berujung maut, kerumunan dan joget ditambah bau alkohol yang menyengat menjadikan suasana bertambah gelap. Kejadian seperti ini juga aku temui saat sekolah di kota.

Ketika ada konser kali ini bukan dangdut (sebab orang kota "mengharamkan" dangdut) tapi musik cadas, kerusuhan yang berujung mautpun terjadi. Orang kota lebih beringas, masa yang terlibat lebih banyak, menggunakan sajam (senjata tajam) dan sapul (senjata tumpul) sehingga sudah seperti perang kolosal zaman Majapahit, sepertinya.

Berita terkini (13/1) adalah pentas seni SMA 44 di parkir barat gelora bung Karno berakhir anarkis, panggung dihancurkan dan puluhan mobil dirusak, duhh.

Bukan untuk menyalahkan siapapun. Kejadian-kejadian seperti diatas sangat menusuk nurani dan tak bisa dibiarkan. Bukan untuk melarang tapi kita (khususnya saya) tentu rindu suatu hiburan yang menyejukkan, bukan.

Wahai orang-orang desa, janganlah rasa haus hiburan kalian semakin menggelapkan keadaan yang sudah gelap. Sadarlah, bangunlah bangunlah bangunlah, ora ndelok artis ora pateken. Artis dan grup musik itu belum layak kalian jadikan panutan. Dan untuk orang kota, tentu kalian lebih pintar menyikapi masalah seperti ini.

(c) dPs ~
Palmerah - Jakarta, 15 Januari 2007 - 02:25

Monday, December 18, 2006

@ 031 : Maaf itu Tidak Cukup SMS

Di era informasi seperti sekarang ini gaya hidup orang kampung yang ke kota menjadi digital. Perkembangan teknologi telekomunikasi mendukung hal tersebut. Sejak telepon genggam menjadi kacang goreng gaya hidup-pun diubah. Untuk berkomunikasi tak harus bertatap muka cukup tekan nomor, kring sambung, terus ngobrol deh.

"Lu lagi dimana nich?" sering diucapkan satu sama lain. Hal ini untuk mengetahui keberadaan tempat lawan bicara kita. Edan, dimana saja kapan saja kita bisa ngobrol dengan orang yang kita inginkan. Yang penting punya uang dan sanggup bayar pulsa tak perduli apakah obrolan itu penting apa tidak, mungkin sudah tertancap di benak tiap kepala. Suatu kemajuankah ini atau sekedar hidup gaya ? terserah anda menilainya.

Lebaran, bertukar pesan singkat (SMS) sepertinya hukumnya sudah wajib. Saling bermaafan lewat jalur pesan singkat dianggap sudah cukup mewakili. Tak jadi soal kalau memang tidak memungkinkan untuk bertemu di kemudian hari, tapi kalau memungkinkan untuk bersilaturahmi tentu hal ini akan menjadi lain cerita. Jika alternatif kedua ini kita alami maka kebiasaan bermaafan lewat pesan singkat tersebut cenderung memutuskan tali silaturahmi.

Anggapan bahwa dengan mengirim maaf lewat pesan singkat itu sudah cukup, tanpa perlu datang ke rumahnya padahal sebenarnya kita mampu saya pikir adalah keliru. Hidup gaya seperti ini yang membuat manusia itu hilang sifat manusianya. Kunjung mengunjungi, memuliakan tamu, menjadi tuan rumah yang baik mungkin akan menjadi hal yang aneh, tidak masuk akal dan tidak wajar suatu saat nanti. Gak percaya ? tanyakan saja pada orang yang suka kirim maaf lewat pesan singkat tersebut.

Beberapa pesan singkat waktu lebaran kemarin :
  • Minal aidin walfaizin.mohon maaf.lahir.dan batin.Tempat. Bodo disik (A**p**n)
  • Minal aidin walfaidzin. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1427 H. Mohon maaf lahir batin. - w**k*to & kel.
  • Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Shiyamana Wa Shiyamakum. Selamat Idul Fitri 1427 H. Minal aidin wal faidzin. (W*dy*tm*ko & KEL)
  • Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon maaf lahir & batin -N*n**n-
  • Allahuakbar..3x sy mngucapkan slamat Idul Fitri mhn maaf lhr batin. smoga kita kmbli ke fitri dan hikmah ramadhan selalu melekat pd diri kita - W*ld*n F -
  • Izinkanlah kdua tngn memohon maaf Atas lisan yg tak t'jaga,janji yg t'abaikan,skp yg prnh m'yakitkan mohon Maaf lahir&batin Minal aidin wal faidzin -w**nu&ke.-
  • Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita. Selamat Hr Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427 H, mohon maaf lahir & batin (H**s Z*k*ri*)
  • Putih kapas-putih asap, lalu lenyap dihembus angin, pekat dosa-salah & khilaf, tercuci bersih di hari fitri, taqobalallahuminna waminkum, maaf lahir batin - c*t*r
  • Mas Dwi mohon maaf lahir batin. Kik
  • ALLaH mndahulukn maafNYA drpd amarahNYA. Tlah kmi sgrakn m'beri maaf jauh sblum kmi mndmba curahn maaf..Raih kmenangn dgn sjuta maaf! Allahuakabar! * h*pp*-*y*n
  • Pasti ada kesalahan yg saya perbuat. Melalui pesan kilat ini saya meMohon maaf sebesar-besarnya maaf. Minal Aidzin Wal Faidzin. B*D* S*N*RK*
Gimana, lucu-lucu bukan? Dari 11 sampel pesan singkat tersebut hanya satu orang yang bersilaturahmi dengan saya. Bagaimana dengan anda? Masih banyak pesan singkat lain sebenarnya, nanti kalau ada waktu saya sambung lagi.

(c) dps ~
Kemayoran - Jakarta, 5 November 2006 - 09:00

Sunday, December 17, 2006

@ 030 : Mbah Yem hanya Jual Pecel

Pagi itu cuaca cerah, sejuk, dan tenang, hanya satu dua kendaraan saja yang melintas di jalanan ibu kota. Seperti biasa hari libur seperti ini aku gunakan untuk berolahraga di monas, lari-lari kecil sambil mengenolkan pikiran ruwet yang masih singgah di kepala. Badan sehat dan pikiran yang tenang adalah nilai mahal buat warga ibu kota. Mengapa ? tekanan rutinitas yang tinggi mungkin salah satu penyebabnya.

Sehabis olahraga kegiatan berikutnya adalah mencari makanan atau barang-barang seperti kaos, baju, sandal, dan aneka pernik yang disediakan pedagang kaki lima. Belanja di pinggiran seperti ini membawa kenikmatan tersendiri. Selain harganya murah, barang-barang tersebut juga belum tentu ada di mal atau supermarket.

Sebut saja namanya mbah Yem, usianya sudah tidak muda lagi. Kerut di wajahnya sekilas menggambarkan betapa kerasnya hidup yang beliau jalani. Putaran waktu perlahan mengikis parasnya dan mengantar mbah Yem ke ujung kehidupan, dambaan setiap insan tentu saja.

Di usianya yang senja, mbah Yem tidak seperti mbah-mbah yang lain. Kalau mbah-mbah yang lain menikmati hari tuanya di rumah, dihibur cucu, dirawat anak dan menantu maka tidak demikian dengan mbah Yem, masa tuanya beliau habiskan di jalan untuk jual nasi pecel.

Segera aku pesan satu kepadanya, nasi pecel yang enak susah dicari di kota ini. Sayur, sambal, peyek dan tempe goreng racikan mbah Yem ini asli, asli buatan kampung tidak seperti pecel restoran. Bungkusnya-pun menggunakan daun pisang bukan kertas.

Belum lama kusantap pecel pincuk buatan mbah Yem datang beberapa petugas tramtib menertibkan keadaan. Rupanya para pedagang kaki lima termasuk mbah Yem ini dianggap berdagang melintasi batas wilayah yang dibolehkan. Hal ini membuat petugas tramtib tersebut marah. Mbah Yem-pun kena getah, beliau dibentak-bentak si kupret oknum tramtib itu.

Kurang lebih seperti ini, "Mbah jangan disini dong jualannya, agak kesana, udah tua gak tahu diri juga, entar aku bawa nich dagangannya" ketus si kupret dengan nada tinggi. Semua terjadi di depanku, seorang tua yang disisa umurnya berjuang untuk menyambung hidup dibentak-bentak oleh si kupret muda dan semua orang membiarkannya termasuk aku yang hanya diam menyaksikan, bodoh sekali memang aku ini.

Apakah si kupret itu tidak pernah diajari sopan santun, apakah si kupret itu tidak mengerti arti tata krama, apakah si kupret itu tidak akan tua dan menjadi tua seperti mbah Yem, apakah si kupret itu harus represif kepada orang seperti mbah Yem, apakah si kupret itu tak berhati, benar-benar kupret si kupret itu.

Mbah Yem, di penghujung usiamu ini, dimanakah anak cucumu, dimanakah sanak saudaramu. Tetesan keringat dan perjuanganmu dalam hidup ini sungguh mulia. Tak sepantasnya dirimu diperlakukan seperi ini meski atas nama ketertiban sekalipun. Dirimu tidak mengganggu ketertiban, dirimu tidak merepotkan, dirimu bukan penjahat, dirimu adalah orang yang mulia.

Ya Allah, ampunilah dosa mbah Yem, lindungilah beliau, bimbinglah, dan tempatkan beliau di tempat yang mulia disisi-Mu, Amin...

(c) dps ~
Palmerah - Jakarta, 18 Desember 2006 - 0:47

Sunday, December 10, 2006

@ 029 : Pendekar Sastra Pergi

Kemarin Sabtu, 29 April 2006 saya ke Gramedia Mataraman, ingin membeli buku yang ditulis Pramoedya, buku apa saja. Saya hampiri komputer pencari terus ketik kata kunci Pramoedya pada bagian pengarang. Monitor segera menampilkan informasi yang saya butuhkan, masih segar di kepala, rak 4001 disitulah buku Pramoedya diletakkan.

Ada beberapa buku yang menutupi buku Pramoedya di rak tersebut. Saya ambil buku-buku itu dan saya letakkan di rak bawah. Harapan saya, biar bukunya Pramoedya terlihat lalu ada orang yang membelinya. Karena menurut saya, buku Pramoedya itu mengajak kita menyelami masalah dari perspektif lain. Cerita yang disampaikannya lugas dan alurnya enak untuk diikuti, membacanya tidak capek dan penuh wawasan baru. Satu buku yang menarik saya malam itu adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

Di bagian belakang buku tersebut tertulis "Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain". Hal ini mengingatkan saya kepada tulisan Soekarno "een natie van koelis en een koeli van naties" bangsa yang terdiri atas kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa. Apakah Pramoedya terinspirasi oleh Soekarno ? setahu saya memang beliau mengaguminya.

Hari ini Minggu, 30 April 2006 pukul 12:00 di buletin siang saya mendengar bahwa Pramoedya telah pergi untuk selamanya, setengah tak percaya rasanya, kaget. Pramoedya adalah salah satu penulis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, mungkin juga dunia. Berbagai penghargaan internasional pernah beliau dapat, bahkan pernah dinominasikan sebagai pemenang nobel dalam bidang sastra.

Pramoedya adalah orang yang dibesarkan oleh zaman, apakah putaran zaman akan melahirkan kembali orang besar seperti beliau, entahlah.

Hari ini Indonesia telah kehilangan penulis terbaiknya, mungkin juga dunia. Selamat jalan sang maestro...

(c) dps ~
Kemayoran - Jakarta, 30 April - 13:30

@ 028 : Lucu atau Menipu

Televisi tidak hanya barang elektronik tetapi juga merupakan media komunikasi informasi. Di belakang industri TV ada beberapa industri yang menyokongnya, mulai dari busana, boga, RP (Rumah Produksi), iklan, dan lain-lain. Sebagai media komunikasi TV memungkinkan digunakan untuk propaganda, menghegemoni, mereproduksi ketaatan, bahkan memproduksi candu buat masyarakat. Meski ada nilai baiknya, dari sudut ini jelas tujuan positif yang diemban seperti mencerdaskan misalnya, terasa jauh.

Ada orang berambut kribo sedang ngobrol sama temannya yang agak plontos. Si kribo memberitahu kepada si plontos kalau sepeda motor yang dipinjamnya hilang. Tak lama si plontos mendapat pesan singkat / sms setelah itu dia ketawa ngakak dan si kribo menyambutnya dengan muka bingung.

Begitulah kira-kira isi tayangan sebuah iklan jasa sms. Apa yang ingin disampaikan pihak peng-iklan itu benar-benar membuat tak habis pikir. Karena mendapat pesan singkat / sms "hepi" kehilangan sepeda motor pun seolah-olah dianggap wajar dan bukan suatu masalah besar, sangat tidak mendidik. Lucu atau menipukah?

Disinilah terjadi pendistorsian nilai-nilai yang sengaja dihembuskan untuk suatu tujuan yaitu laku. Proses pembodohan sedang berlangsung dan kita menyaksikannya secara sadar. Tiada yang salah sebab iklan adalah sesuatu yang bersifat membujuk. Tak aneh jika untuk membujuk tadi sesuatu harus dilebih-lebihkan memang. Tapi kalau membujuknya sudah seperti ini saya pikir sangat menggemaskan. Negara ini rindu orang yang cerdas dan mencerdaskan.

Ah sudahlah, mungkin enakan nonton acara jorok di tivi! Gampang, murah, gak perlu mikir, dan perlu. Jadi goblok? Ah, buat apa pinter-pinter? Ntar pusing plus aneh! Makanya tak heran kalau ada anekdot bahwa otak orang indonesia paling mahal, wong gak pernah dipakai mikir dan kalau dipakai-pun mungkin buat melamun.

(c) dps ~
Palmerah - Jakarta, 26 Mei 2006 - 16:47

Thursday, December 07, 2006

@ 027 : Jus Poligami

Ketika sedang buka puasa bersama Sabtu, 14 Oktober 2006 di sebuah warung ayam , penulis disodori menu. Dalam daftar menu tersebut, ada yang sedikit menggelitik perhatian. Di deretan menu minuman jelas tertulis jus poligami. Rasa penasaran yang terbangun spontan mencoba untuk menelisik, hal seperti itu sering penulis biarkan liar. Keputusan segera diambil, dipesanlah minuman tersebut jus poligami tentu saja.

Dari seberang meja seorang teman (KA) mencoba bercerita. Dia mengatakan bahwa minuman ini paling di benci oleh ibu-ibu. "Masak sih ?" jawab penulis mencoba menggali lebih jauh. "Bukan hanya minuman ini saja, warungnya juga" imbuh KA. "Emangnya kenapa ?" tanya penulis. "Ya kamu tahukan, nama jus itu diambil dari gaya hidup yang dilakoni pemillik warung. Jumlah buah di jus itu ada empat, ini adalah jumlah istrinya" jawab KA mencoba mencerahkan. "Ooo, begitu ya" sahut penulis paham.

Terlepas benar atau salah cerita KA penulis tidak mau menggali lebih dalam, sebab jika ditanya darimana kamu tahu informasi tersebut. Mungkin KA akan menjawab katanya orang-orang sih, tebak penulis dalam hati. Selain itu, keberadaan penulis disitu dalam acara Bonansa (Obrolan Santai di Bulan Puasa) bukan untuk wawancara.

Poligami kembali mengangkasa dewasa ini bahkan sampai membawa negara ke dalam pusarannya. Ada yang menganggapnya sunah ada yang keras menentangnya. Fenomena apakah ini, bisa kita lihat dari multi perspektif. Bagi seorang muslim yang menganggapnya sunah merujuk kepada Nabi dan QS An-Nisa, 2-3. Agama yang dipahami secara parsial tanpa menengok lebih dalam tentu membahayakan. Dalam kasus ini, wanita sering menjadi korban. Apakah semua yang dilakukan nabi harus diikuti, siapakah yang berhak menafsirkan Kitab Suci, rasanya otak saya terlalu kecil untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Anda tentu pernah mendengar ungkapan boleh berpoligami asal bisa berlaku adil. Entah darimana asal-usulnya jargon tersebut, penulis menggarisbawahi kata adil. Secara eksplisit jargon tersebut justru melarang poligami karena sejatinya yang punya sifat adil hanyalah Tuhan, manusia tidak mempunyainya. Yang dapat diusahakan adalah pengejawantahan sifat-sifat Yang Maha Absolute tersebut. Jadi adilnya manusia itu adalah adil-adilan, adil yang parsial.

Dulu, di waktu kecil tentu pernah mendengar bahwa jumlah wanita dan laki-laki adalah empat dibanding satu. Jadi wajar kalau laki-laki punya istri lebih dari satu. Anehnya kita menerima dan percaya bulat-bulat dengan hal tersebut, terkadang sampai sekarang. Perhatikan teman anda yang suka mengatakan "Hari gini, punya cewek cuma satu" atau "Cewek lebih banyak dari cowok, kok masih jomblo" yang biasa terlontar dalam canda. Tanpa disadari, mungkin di dalam pikiran teman anda tersebut tertanam paradigma empat dibanding satu itu. Asumsi penulis, paradigma tersebut di sebarkan oleh orang yang menafsirkan Kitab Suci dengan ideologi patriarki yang menganut paham poligami, ini baru penulis ketahui kini.

Daripada selingkuh, mending poligami. Maraknya pelacuran itu karena perempuan tidak mau dimadu. Sahwat laki-laki yang berlebih harus disalurkan. Logika seperti ini terbalik, jika diikuti hanya akan melegalkan perselingkuhan / perzinahan, bahkan membawa seks bebas ke dalam zona suci. Poligami justru bentuk ekspresi ketidaksetaraan, perempuan ditempatkan lebih rendah dari laki-laki (MM Billah).

Ada suatu kasus dalam sebuah keluarga dimana istri sangat senang jika suaminya berpoligami. Setelah ditelisik lebih jauh ternyata ada masalah seks yang tidak beres dalam keluarga tersebut. Sahwat suami sangat besar jadi istri sangat senang sekali jika suaminya berpoligami, hitung-hitung berbagi penderitaan. Tidak hanya manajemen qolbu tapi kita juga butuh manajemen sahwat (aktivis perempuan Nahdlatul Ulama Musdah Mulia).

Bagaimanakah dengan anda, apakah setuju atau katakan tidak untuk poligami. Mungkin inilah yang disebut perbedaan itu adalah rahmat. Dengan berbeda tidak harus saling meniadakan, disinilah terjadi negosiasi identitas. Yang jelas jus poligami itu halal...

salam jus poligami

(c) dps ~
Palmerah
Jakarta, 7 Desember 2006 - 04:00

Tuesday, December 05, 2006

@ 026 : Sekolah <> Cari Uang

Paradigma kita tentang pendidikan harus diubah, tujuan sekolah itu untuk menuntut ilmu bukan mencari uang. Perkara dengan ilmu tadi kita bisa mencari uang itu soal lain.

Tak bisa dipungkiri memang masih banyak sekolah yang diproyeksikan untuk kebutuhan industri. Dengan bersekolah manusia dicetak menjadi mesin produksi, pesanan sebuah perusahaan. Anda tentu masih ingat dengan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) bukan, itu adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah adanya beasiswa perusahaan dan minat calon siswa yang memilih sekolah A karena pengen bekerja pada perusahaan B.

Selain itu, tidak hanya cara belajar kita yang merupakan pesanan industri, dunia pendidikan-pun dewasa ini juga sudah menjadi sebuah industri. Wacana swastanisasi perguruan tinggi adalah fenomena nyata yang bisa kita tangkap. Sekolah berbiaya mahal adalah kabar lumrah yang sering memerahkan telinga.

Dari sisi lain lembaga pendidikan dijadikan tempat indoktrinasi. Akibatnya terjadilah dehumanisasi terhadap manusia itu sendiri. Disini jelas, esensi pendidikan tidak tercapai, slogan mencerdaskan dan mencerahkan serasa sangat jauh tapi itulah problematika dunia pendidikan kita, yang perlu dibenahi.

1. Apa memang benar, orang yang sudah S1 itu pola pikirnya jauh lebih bagus ketimbang STM ya?
Menurut mas TCO pola pikir anak lulusan SMP dengan STM itu lebih bagus mana? Pola pikir seseorang memang tidak ditentukan apakah dia S1, D3, STM, atau SD. Tapi dari kemauannya yang kuat untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu salah satu jalannya adalah dengan sekolah. Jadi dengan sekolah setinggi mungkin diharapkan kemampuan normatif, kognitif, afektif dan psikomotorik anda berkembang.

2. Apa memang benar, orang yang sudah S1 itu jauh lebih pinter dari STM ya?
Bisa ya bisa tidak, sangat bergantung kepada si S1 dan si STM itu sendiri. Jawabannya ada di no 1.

3. Apa memang benar, orang yang sudah S1 itu lebih bisa menguasai bahasa asing ketimbang STM ya?
Jawaban sama dengan pertanyaan ke-2.

4. Apa memang benar, orang yang sudah S1 itu jauh lebih dewasa dari pada STM ya?
Jawaban sama dengan pertanyaan ke-3

Manusia yang mepunyai modal kecerdasan bagus sangat disayangkan jika tidak digunakan dengan maksimal. Ibarat Komputer, Prosessor yang cepat, Harddisk yang besar, Memori yang gede kan sayang jika hanya digunakan untuk aplikasi Ms Office saja. Dari sini saya hanya ingin mengatakan bahwa sekolah (menuntut ilmu) itu penting dari buaian sampai liang lahat.

(c) dps ~
Palmerah
Jakarta, 17 November 2006 - 16:00

Thursday, November 30, 2006

@ 025 : Bertemu Kawan Lama

Hari itu adalah Sabtu, tepatnya 19 November 2006, udara di Djakarta sangat panas menyengat. Dalam kondisi seperti ini tentu membuat malas untuk beraktivitas di luar rumah. Sinar matahari adalah musuh yang harus dihindari, anggapan seperti ini saya pikir jauh benar dari benar.

Hari itu aku punya janji akan mengantar seseorang untuk membeli komputer mini (notebook) di Harco Mangga Dua. Dengan si legenda kecil kuikuti saja jalan ini, jalan yang kuharap membawa ke arah tujuan. Lalu lintas di sekitar Gunung Sahari macet total, penyebabnya adalah jumlah kendaraan yang tak lagi sebanding dengan ruas jalan.

Tempat parkir motor di Harco ada di lantai bawah (basement). Dari arah pintu masuk, kita belok kanan terus belok kiri baru masuk ke bawah gedung. Sampai di ruang parkir aku langsung lepas jaket, panas dan macet di jalanan serasa telah menguras energi tubuh.

Belum selesai aku berbenah, kulihat seseorang yang sepertinya pernah aku kenal. Langsung saja aku sapa dia untuk memastikannya. "Trigas ya..?" tanyaku. "Arek mBlitar ya.." sahutnya. "Dulu di kelas C kan..?" tanyanya lagi. "Enggak, aku di kelas D". Begitulah kira-kira percakapan singkat yang terjadi spontan di ruang parkir. Kami langsung bertukar nomor telepon.

Trigas ini rupanya sedang ada pelatihan di Harco. Dia tidak ingat namaku cuma ingat kalau aku ini orang mBlitar. Sedangkan aku masih ingat namanya. Trigas adalah teman semasa SMP. Sudah 10 tahun kami tidak pernah bertemu. Bukan waktu yang sebentar rasanya.

Sebelum lebaran memang aku pernah buka FS-nya dia lewat FS seorang teman, makanya tak heran jika aku tahu nama dan kabarnya. Dan hari ini aku bertemu dia secara langsung, aneh bukan.

Bertemu dengan seseorang yang kira-kira tak mungkin, saya pikir adalah sebuah keajaiban. Maha Suci Allah yang telah mempertemukan hamba-Nya.

(c) dps ~
Palmerah
Jakarta, 29 November 2006 - 23:30

Wednesday, November 29, 2006

@ 024 : Diskriminasi Pengidap HIV / AIDS

Siang ini ada demo pengidap HIV/AIDS di bundaran HI. Mereka menuntut pemerintah agar jangan mendiskriminasikannya dalam berbagai bidang kehidupan. Salah seorang pendemo yang juga mengidap AIDS mengatakan bahwa dia pernah ditolak dokter gigi gara-gara mengidap virus HIV.

Dalam orasinya yang ditayangkan Liputan 6 mereka juga mengancam akan menularkan penyakit yang dideritanya ke orang lain jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Sementara itu beberapa hari yang lalu saya pernah menerima pesan dari YM! yang berbunyi "Teman2, hati2 kalo pergi nonton bioskop, perhatiin tempat duduknya. Kadang2 ditaruh jarum yang sudah terinfeksi HIV, jadi begitu duduk 'n ketusuk, kita dah terinfeksi. Dan parahnya ada tulisan : selamat anda telah bergabung bersama kami di dunia HIV. jadi kita mesti hati2 coz perbuatan sperti ini bahaya bgt karna blm ada obat bt nyembuhin. Tolong sebarkan ke yg laen coz ini brita sungguhan uda terjadi di kota Jakarta dan Medan bahkan mungkin di kota2 yang laennya. Thx buanget bt yg uda ngopy 'n disebarin kpd temen2 yg laen." Tulisan tersebut asli dan sengaja tidak saya edit.

Orang-orang penderita HIV/AIDS ini memang tak jarang termarjinalkan kehidupannya dari lingkungan yang ada. Mungkin hanya keluarganya yang mau mengerti perasaan mereka.

(c) dps ~
Kemayoran
Jakarta, 29 November 2006 - 13:30


@ 023 : HUT Marinir

Selasa, 14/11/2006 lewat di depan mako marinir di jalan prapatan bilangan senin sekitar patung tani, tampak ada sesuatu yang ganjil di luar kebiasaan. Banyak penerjun berseragam hitam di langit sekitar, rupanya mereka adalah prajurit marinir yang terlatih. Terjun di tengah kota terus kudu mendarat di mako marinir yang sempit diantara gedung tinggi tentu bukan sesuatu yang mudah.

Marinir pernah membuat hitung-hitungan ABRI (yang isunya terbagi menjadi dua kubu) di tahun 1998 menjadi susah diprediksi. Korps ini dicintai kubu pro reformasi (mahasiswa) waktu itu

Dirgahayu Ke-61 Buat Marinir
Semoga sesuai slogan yang sedang diusung dalam HUT tahun ini
"Menjadi Prajurit yang Bermoral Profesional dan Dicintai Rakyat"

(c) dps ~
Kebon Sirih
Jakarta, 14 November 2006 - 10:03

Sunday, July 30, 2006

@ 022 : Konsistensi dan Ketahanan

Dalam tekanan yang tinggi, konsistensi dan ketahanan seseorang itu diuji. Akankah dia larut atau tetap kokoh. Tekanan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa ekonomi, keluarga, pekerjaan, relasi sosial dan lain-lain. Terus menumpuk, menyerang bahkan kadang mematikan jiwa dan pikiran.

Dalam keadaan demikian dibutuhkan pegangan yang kuat untuk bertahan. Pegangan ini tentu tidak begitu saja ada tapi harus dibangun sejak dini dan diasah terus menerus setiap hari. Dari sinilah kita tahu betapa tak berdayanya yang namanya manusia itu.

Meskipun demikian, makhluk yang kecil ini masih saja sombong, malas dan gemar dosa. Sering saya saksikan orang-orang yang dulu kuat, tegar, kokoh dan baik kini lemah dan larut. Hilang eksistensinya, ditelan perubahan, mengabdi pada kesenangan, menjilat kemunafikan, mengejar fana. Benar-benar menjijikan (naudzubillah).

Ya Allah, tuntunlah hamba-Mu ini...
Hanya Engkaulah yang pantas hamba jadikan pegangan...

(c) dps ~
Palmerah
Jakarta, 30 Juli 2006

Sunday, June 25, 2006

@ 021 : Pe Er Je

Tujuh tahun di Jakarta baru tiga tahun yang lalu aku melihat Pekan Raya Jakarta (PRJ), sebuah pesta kota yang diperuntukkan bagi warganya. Waktu itu aku masih tercatat sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Berawal dari ajakan teman, dengan motor baruku kita konvoi ramai-ramai ke PRJ, kenangan yang indah masa kuliah tentu saja.

Semenjak itu, hampir setiap tahun ku kunjungi PRJ, kebetulan sekarang lokasinya deket dengan kos, semakin mudah tentu saja. Hal ini tak terasa telah membawaku pada rasa ketagihan. Jenuh terhadap rutinitas yang mendehumanisasi membuatku haus hiburan yang bermutu dan murah. Berbaur bersama arus bawah sambil menikmati tontonan yang ada mengingatkanku pada wayang kulit, layar tancap dan bazar malam yang sering aku konsumsi sewaktu kecil.

Tidak ada yang berubah dari PRJ kali ini kecuali tertentu. Yang aku rasa lebih nyaman adalah parkir yang lebih baik, tidak macet dan aman. Sementara itu, di dalam area PRJ ada bangunan taman yang asri, sejuk dengan danau buatan, replika monas, pohon-pohon yang rindang lengkap dengan lampu hias membuat suasana harmoni dan menimbulkan ketenangan. Taman tersebut jelas ditata dengan seni bangunan yang memperhatikan estetika.

Tiket masuknya adalah 16 ribu untuk hari Sabtu dan Minggu sementara tiket parkir motor tiga ribu untuk selamanya. Parkir motor kali ini menggunakan kartu barcode dan harus membawa STNK, penjaganya banyak dan resmi, area parkirnya luas, benar-benar aman dan nyaman.

Selain taman yang harmoni, kita juga bisa melihat panggung musik, layar lebar untuk nonton bareng piala dunia, aneka makanan, motor, baju, sepatu, produk-produk kerajinan tangan dan lain-lain. Transaksi dapat dilakukan dengan kartu kredit maupun debit. Cuma ATM yang ada hanya untuk tiga Bank, yaitu BCA, BNI dan Bank DKI. Saya sarankan agar bawa uang dari rumah, sebab antrian cukup panjang di ATM, hal ini saya alami Sabtu kemarin.

Seperti tahun lalu, setelah capek berkeliling saya nikmati lezatnya santapan tradisional sambil melihat ramainya suasana sekitar. Jika tahun lalu sate senayan maka sekarang bebek goreng di stan soto "doks". Tak lupa juga membeli oleh-oleh untuk yang dirumah, yaitu se-tas enaco, sekotak bakpia 25, sekantong kripik belut, se-tas snack man dari chiki dan sebungkus nasi gorang pelita.

Saat capek dan senang melebur jadi satu, tidur malam begitu indah...

--= PRJ yang indah =--

(c) dps ~
Kemayoran
Jakarta, 25 Juni 2006 - 09:16

@ 020 : Kenangan

Kenangan, itulah kata yang diucapkan seseorang untuk menyebutkan sesuatu yang telah dilalui. Ibarat lukisan, kenangan ada yang indah dan juga sebaliknya hambar seperti goresan tanpa pola, kaku, dingin dan kosong.

Masa lalu yang pahit yang dilewati dengan senang kini ku sebut dengan bangga. Jelas tergambar perjuangan waktu itu yang tak kenal lelah, perjuangan demi hidup yang katanya harus lebih baik mematriku pada kaku di suatu waktu. Decakan kagum tanpa henti tak terasa keluar dari bibir otak begitu saja, spontan.

Berbangga pada diri sendiri tentu bukanlah suatu masalah bagi diri sendiri tersebut, sebab monolog lah yang terjadi. Himpitan yang keras telah memberiku energi yang begitu besar dalam hidup. Hal ini juga yang telah menempaku menjadi manusia yang kuat. Kemapanan bahkan sering melemahkanku, kini. Rapuh tanpa daya seperti Arjuna tanpa kayu, benar-benar tak berguna. Duh Gusti, ampuni jika hamba-Mu masih mengeluh.

Bagaimana dengan hidup anda, apakah banyak kenangan yang indah atau kah sebaliknya ?

Energi-energi diatas kini hadir lagi dalam diri. Apakah kekosongan dan kegamanganku selama ini yang telah membawanya kembali, hhmmm entahlah, yang jelas aku tak ingin rasa ini pergi.

Ya Allah, hamba-Mu yang hina dan sesat ini mendambakan sinar-Mu...

--= lukislah hidup dengan baik =--

(c) dps ~
- Palmerah -

Friday, May 12, 2006

@ 019 : Majalah Porno

Playboy menjadi masalah yang hangat disamping RUU APP dewasa ini. Kenapa ada golongan yang menolak Playboy, sosiolog Imam Prasodjo mengatakan bahwa Playboy bukan hanya sekedar majalah tapi juga diasosiasikan sebagai simbol "seks".

Menurut Sigmund Freud simbol bukanlah hasil kreasi pikiran melainkan kepingan informasi yang tersimpan dan dimunculkan kembali. Oleh pikiran, kepingan informasi itu diasosiasikan secara bebas dengan berbagai cara sesuai kapasitas pengolahnya. Artinya sebuah simbol secara bebas dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang. Dalam dunia simbol fakta adalah persepsi.

Dalam hal ini penulis percaya bahwa pada akhirnya siapa yang berhak menentukan kebenaran dan kebaikan itu adalah penguasa. Maka berlakulah hukum : pasal satu, penguasa selalu benar dan baik, pasal dua : jika penguasa salah dan jelek kembali ke pasal satu. Secara empiris bukti dari hukum ini sangat banyak, penulis tidak membahasnya pada kesempatan ini.

Berdasar landasan tersebut diatas maka penguasa itu haruslah filsuf dan juga rohaniawan karena disini ada tuntutan bahwa penguasa harus bisa bersikap benar dan baik. Benar untuk ukuran logika sedangkan baik untuk ukuran moral. Penulis akan mengulas sedikit tentang benar dan baik. Contoh : Jika tidak mau terkena penyakit kelamin gunakanlah kondom untuk bersetubuh dengan seorang pelacur. Premis ini benar secara logika tapi tidak baik secara moral. Apalagi jika premis tersebut diucapkan oleh penguasa tentu akan tambah tidak bermoral.

"Silahkan membuat pornografi + aksi, legalkan judi dan zina lewat pelacuran daripada duitnya masuk ke selain pemerintah" dari kacamata saya pendapat itu benar secara logika tapi bagaimana menurut ukuran moral ?

Bukankah kita sama-sama sepakat bahwa kejahatan dan kebaikan memang ada dan terus ada. Dalam perdebatan panjang akhirnya semua akan kembali kepada zat yang Maha Benar dan Maha Baik, tapi menyerahkan segala urusan hidup kepada yang transedental adalah suatu bentuk kemalasan manusia, ujar Marx. Penguasa dituntut untuk menjaga keseimbangan.

Kembali ke masalah Playboy...
Butuhkah kita membaca Playboy ?
Apakah untuk membaca "informasi sex" seperti dalam Playboy kita harus impor ?

(c) dps ~
Palmerah

@ 018 : Seputar Pornografi

Apabila kita menempatkan kasih di atas segala-galanya, yang menjadi persoalan adalah apakah kita dapat mengasihi pemerkosa, perampok dan pembunuh sadis?

Para moralis menganggap bahwa yang namanya kebaikan adalah mengasihi orang lain, merindukan orang lain, mencintai orang lain, menyayangi orang lain, menolong orang lain dan berbagi kata kebajikan dan kasih sayang lainnya (Inu Kencana Syafiie)

Bukankah brutal perasaan kita apabila yang kita rindukan, sayangi, cintai, dan tolong itu adalah seorang pemerkosa dan pembunuh yang memperlakukan dengan sadis korbannya,misal dengan memotong kuping, kemaluan (mutilasi) dan tidak peduli apakah yang diperkosa itu adalah anak, saudara atau orang tuanya. Lebih2 jika hal ini terjadi karena industrialisasi pornografi dan aksi yang menggurita...;(

Dari situ diperlukan marah, benci bahkan perang bila perlu terhadap berbagai pelaku tindakan dekadensi moral. Maka sebagai tindakan antisipatif diperlukan hukum, menurut saya.

Jika melihat dari kacamata ini rasanya kurang pas jika masalah pornografi dan aksi dikaitkan dengan Islamisasi negara, pelarangan kebudayaan tradisional, pembunuhan kreatifitas (seni). Memang RUU APP masih memuat pasal2 yang pro kontra di dalamnya tapi meskipun demikian keberadaannya bukan tidak diperlukan.

Dari dulu, di irian pake koteka tidak jadi masalah, di jawa pake kemben tidak jadi masalah, candi2 ada relief bugil tidak jadi masalah, kitab yang disebutin gus dur "cabul" tidak jadi masalah. Dari sini sebenarnya "Porno" itu sejak dulu tidak jadi masalah.

Akan menjadi masalah jika "porno" itu sudah menjadi komoditas yang dibungkus industrialisasi. Bicara industri maka kita bicara hegemoni, gombalisasi, liberalisasi, kapital, buruh dan moral.

Suatu saat orang pake "BH" ke mal itu adalah wajar (mungkin ini sudah terjadi), trus free sex itu juga wajar. Dari sini kita sudah terhegemoni oleh budaya yang liberal...;(

(c) dps